Jawa Pos Radar Situbondo – DPRD Situbondo memanggil SMPN 4 Situbondo, Jumat (13/10). Pemanggilan untuk mengklarifikasi adanya isu pungutan liar (pungli) di sekolah tersebut.
Alat kelengkapan lembaga wakil rakyat tersebut juga mengundang Dinas Pendidikan, serta perwakilan wali murid SMPN 4 Situbondo.
Ketua Komisi IV DPRD Situbondo, Sahlawi menjelaskan, tujuannya memanggil pihak-pihak terkait untuk memperjelas peristiwa yang sebenarnya. Hasil dari pertemuan itu, terungkap jika tidak ada pelanggaran di SMPN 4 Situbondo.
Sahlawi mengatakan, dugaan pungli dihembuskan lantaran ada oknum lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang datang ke sekolah tersebut. Tujuannya untuk kepentingan pribadi.
“Saat rapat terungkap fakta, bahwa ada oknum LSM datang ke SMPN 4. Dia meminta anaknya diikutkan study tour tanpa membayar,” jelasnya.
Namun, sekolah menolak permintaan tersebut lantaran tidak memiliki dana. Sehingga, oknum LSM tersebut kecewa. Kemudian, menuduh SMPN 4 Situbondo melakukan pungli.
“Yang dituduh melakukan pungli kan SMPN 4 Situbondo. Gara-gara sekolah tersebut menggelar study tour dan membayar Rp 1,3 juta,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPTK) di Dispendikbud, Andi Yulian Haryanto mengaku sudah mempelajari kasus dugaan pungli sejak dinas menerima laporan dari masyarakat.
“Sebelumnya kami juga memanggil wali murid dan pihak sekolah untuk mencari kejelasan atau akar masalah tersebut,” ucapnya.
Kata Andi, dari penyelidikan yang dilakukan dinas beberapa waktu lalu, tidak ada temuan kasus pungli atas rencana kegiatan study tour. Sebab, sekolah telah melaksanakan seluruh prosedur yang tepat.
“Dari beberapa kali pertemuan dapat disimpulkan, apa yang dilakukan sekolah sesuai dengan prosedur. Kegiatan tersebut sudah disosialisasikan kepada wali murid sejak satu tahun yang lalu,” jelasnya.
Dikatakan, sebagian besar wali murid menyetujui rencana sekolah menggelar kegiatan study tour. Namun siswa yang tidak ikut juga tidak dilarang.
“Hasil jajak pendapat dengan wali murid itu, sebanyak 75 persen siswa kelas delapan setuju kegiatan study tour. Termasuk biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan tersebut,” pungkasnya. (wan/pri)
Editor : Ali Sodiqin