Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sering Minta Jatah Rokok, Oknum Petugas Irigasi Air di Situbondo Dikeluhkan Petani

Iwan Feriyanto • Sabtu, 14 Oktober 2023 | 16:30 WIB
MUSIM KEMARAU: Salah seorang petani membersihkan sampah yang menyangkut di saluran irigasi air, di Desa Wringin Anom, Kecamatan Panarukan, Situbondo, Rabu (11/10).
MUSIM KEMARAU: Salah seorang petani membersihkan sampah yang menyangkut di saluran irigasi air, di Desa Wringin Anom, Kecamatan Panarukan, Situbondo, Rabu (11/10).

Jawa Pos Radar Situbondo – Sejumlah petani mengeluh atas tindakan oknum petugas irigasi air di Kecamatan Situbondo.

Sebab, mereka memanfaatkan momen keterbatasan air akibat musim kemarau untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

Salah satu petani, Supadi mengatakan, petugas sering meminta rokok kepada petani. Jika tidak diberi, maka jadwal irigasi air tersebut akan dialihkan kepada petani lainnya.

“Di sini ada petugas lobenyo, kalau pas minta rokok tidak diberi, saluran air itu dialihkan ke petani lain. Tapi kalau minta rokok langsung diberi, maka penyaluran air kepada saya lancar,” ujarnya, Rabu (11/10).

Supadi menjelaskan, modus petugas yang tidak menyalurkan air sesuai jadwal pada masing-masing petani bermacam-macam. Seperti sumber air yang mengalir kecil, sehingga tidak cukup untuk mengairi sawah petani.

“Kalau tidak diberi rokok pas waktunya jadwal giliran sawah saya itu ada saja alasannya petugas. Pokoknya aneh-aneh alasannya,” ungkapnya.

Sikap petugas yang demikian membuat geram petani karena dinilai tidak bertanggungjawab. Penyaluran air lebih diutamakan kepada petani yang memberikan imbalan uang.

“Biasanya kalau ada yang bayar petugas  itu dilakukan pas malam hari. Dampaknya, petani lain yang dirugikan.  Kebutuhan air tidak tercukupi. Karena kan sudah dijadwal ini penyaluran airnya,” jelasnya.

Sementara itu, petani lain, Havid mengatakan, tindakan petugas itu dianggap hal yang biasa. Sehingga petani akan memberikan rokok dari pada sawahnya tidak mendapat saluran air irigasi.

“Itu sudah biasa, bukan lagi rahasia. Jadi petani yang tahu itu tidak perlu diminta, langsung memberikan rokok kadang uang,” ucapnya.

Havid menyampaikan, bahwa petani tidak mau tanamannya gagal panen karena kekurangan air. Lebih baik berkorban uang dari pada tanamannya yang rusak. Sebab, petani sudah terlalu banyak mengeluarkan modal.

“Dari pada gagal panen atau panen tapi hasilnya kecil, lebih baik bayar petugas supaya dapat air,” pungkasnya. (wan/pri)

Editor : Ali Sodiqin
#petugas #situbondo #irigasi #Petani #Air #kemarau #rokok