Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Gegara Sebut Penyakit Pasien Tak Bisa Disembuhkan, Dokter Puskesmas Kapongan Ini Dilaporkan ke PN Situbondo

Humaidi. • Senin, 28 Agustus 2023 | 18:21 WIB
dr Winoto, Dokter Puskesmas Kapongan, Situbondo.
dr Winoto, Dokter Puskesmas Kapongan, Situbondo.

RADAR SITUBONDO – Gegara terlalu ’berterus terang’ kepada pasiennya, Winoto, dokter di Puskesmas Kapongan, Situbondo, dilaporkan ke Pengadilan Negeri (PN) Situbondo, oleh advokad LBH Mitra Santri, Jumat (25/8).

dokter Winoto dikeluhkan karena caranya menyampaikan penyakit yang diderita pasien kurang tepat. Apalagi pasien itu masih anak-anak.

Peristiwa ini bermula pada hari Rabu lalu (16/8) lalu. Saat ini ada tim medis dari Puskesmas Kapongan melakukan skrining pemeriksaan di salah satu sekolah di Kapongan, Situbondo.

Adalah Rafi Asrof, warga Desa Seletreng, Kecamatan Kapongan, Situbondo, yang menjadi akar masalahnya. Pada saat skrining, Rafi Asrofi disarankan pergi ke Puskesmas Kapongan.

“Saat saya dengar arahan untuk pergi ke Puskesmas, saya langsung ke Puskesmas,” kata Islamiah, ibu kandung Rafi Asrof.

Saat bertemu dr Winoto di puskesma, Rafi tidak diperiksa. Hanya dilihat dan langsung divonis memiliki penyakit vitiligo. Menurut mengakuan Islamiah, sang dokter mempertegas jika penyakit itu tidak memiliki penyebab dan tidak ada obatnya.

“Dokternya juga bilang gini sama anak saya, kamu harus menerima nanti kalau diejek sama teman-temannya. itu (penyakitnya) bisa-bisa jadi putih separuh bisa putih semua,” kata is menirukan yang disampaikan dokter.

Akibat jawaban oknum dokter tersebut, anaknya tidak mau masuk sekolah maupun mengaji dan sekolah madrasah. Anaknya sudah trauma dan tidak ingin bertemu dengan teman-temannya. Rafi Asrof lebih banyak mengurung diri di rumahnya.

DIDAMPINGI IBU: Yayan (kanan) Paman Rafi Asrof menunjuk penyakit Veteligo yang diderita keponakannya di depan rumahnya di Dusun Setonggek, Desa Seletreng, Kecamatan Kapongan, Selasa (20/8).
DIDAMPINGI IBU: Yayan (kanan) Paman Rafi Asrof menunjuk penyakit Veteligo yang diderita keponakannya di depan rumahnya di Dusun Setonggek, Desa Seletreng, Kecamatan Kapongan, Selasa (20/8).

Atas kasus ini, LBH Mitra Santri melaporkan sang dokter ke PN Banyuwangi. Asrawi, direktur LBH Mitra Santri menyebut, pernyataan dr Winoto menyalahi kode etik kedokteran.

Sebab, sudah menvonis penyakit Rafi tanpa melakukan pemeriksaan secara medis terlebih dahulu. Bahkan pernyataan itu disampaikan di tempat terbuka, alias bukan di kamar pemeriksaan.

 “Begitu ada pasien seharusnya melakukan pemeriksaan, melakukan diagnosa atas penyakit yang diderita, melakukan tindakan yang nyata, memberikan saran medis, rekam medis, uji labolatorium atas penyakit, dan menyimpulkan secara medis. Bukan hanya melihat kasat mata langsung vonis saja,” ungkap Asrawi.

dr Winoto diduga melanggar hukum sebagaimana kitab Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 1365.

“Rafi memang dapat jawaban, tapi jawaban yang disampaikan dokter tidak tepat. Itu pun jawaban yang tidak berdasarkan pemeriksaan terlebih dahulu. Pantas lah, Rafi dan ibunya tidak percaya dan merasa dirugikan,” imbuh Asrwi.

Oleh sebab itu, isi dalam gugatan ke PN Situbondo dr Winoto wajib dan meminta maaf kepada  masyarakat atas pernyataan dan tindakannya.

Saat dr Winoto dihubungi Jawa Pos Radar Banyuwangi, dokter umum Puskesmas Kapongan itu mengatakan, penjelasan yang disampaikan kepada pasien dan keluarganya apa adanya.

dr Winoto menegaskan, penyakit vitiligo memang benar-benar tidak bisa disembuhkan. Sehingga, dia meminta penderita menerima kenyataan. Dia mengaku sudah menerima pasien penderita penyakit vitiligo asal Desa Seletreng.

“Saya sampaikan kepada pasien sekaligus orang tua pasien, jika penyakit tersebut memang tidak memiliki penyebab dan belum ada obatnya. Kalau kamu (Jurnalis Jawa Pos Radar Situbondo, Red) bisa menemukan obat itu, pasti kaya raya. Jadi, saya mengatakan jujur kalau vitiligo itu hingga saat ini tidak ada obatnya,” kata Winoto.

Semisal penderita vitiligo masih tidak percaya, dia menyarankan pasien datang ke dokter spesialis. Tapi dia meminta agar penderita tidak kecewa dengan hasilnya.

“Saya punya teman akrab nakes juga yang punya penyakit vitiligo, sekarang tambah menyebar. Pasien saya juga ada yang berobat ke Surabaya hingga Jakarta habis jutaan. Bukannya sembuh, tapi tambah banyak,” kata Winoto.

Dia mengimbau kepada penderita vitiligo untuk bertahap belajar menerima keadaan. Sebab, penyakit itu bukan penyakit mematikan dan tidak menular. Hanya saja secara penampilan memang kurang nyaman jika menempel di kulit manusia.

“Makanya terima saja penyakit itu, bukan malah menutup diri. Harus menerima dan bisa berbaur dengan lingkungan,” tutut winoto. (hum/pri)

Editor : Ali Sodiqin
#LBH Mitra Santri #pn situbondo #pasien #diejek #vitiligo #trauma #dokter #mengurung diri #vonis #puskesmas