Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Driver Ojol di Situbondo Ngotot Tarif Naik, Sejumlah Pedagang Keberatan Karena Membebani Pelanggan

Iwan Feriyanto • Jumat, 25 Agustus 2023 | 01:30 WIB
PERANG HARGA: Ragam stiker jasa ojol ditempel di salah satu warung milik pedagang di Situbondo.
PERANG HARGA: Ragam stiker jasa ojol ditempel di salah satu warung milik pedagang di Situbondo.

RADAR SITUBONDO – Sejumlah pedagang keberatan jika tarif ojek online (Ojol) disamakan. Sebab, ujung-ujungnya tidak hanya akan berdampak terhadap pelanggan, tapi juga kepada pedagang yang banyak menggunakan jasa ojol.

Salah satu pedagang, Andi Wahyu mengatakan, ketika tarif ojol dinaikkan secara merata, ini akan berdampak terhadap pelanggannya.

Pelanggan akan terbebani karena biaya yang harus dikeluarkan akan semakin memberatkan. Sebab, biaya jasa ojol bertambah.

“Misalnya, biaya pesanan makan dengan jasa ojolnya hanya Rp 10 ribu. Ini otomatis akan berubah kalau tarif jasa ojolnya naik. Bisa-bisa mencapai Rp 13 ribu atau Rp 15 ribu,” ujarnya, Rabu (23/8).

Andi menjelaskan, selama ini dirinya sering bermitra dengan sejumlah ojol. Ini dilakukan ketika banyak pembeli yang memanfaatkan keberadaan ojol. Sehingga tidak perlu datang ke tempat, cukup menunggu di rumah. Pesanan akan diantar.

“Hubungan ini kami lakukan karena sama-sama saling menguntungkan. Terutama tarifnya juga masih bisa dijangkau. Makanya kalau tarif ojol naik, pembeli akan berpikir dua kali untuk menggunakan jasa ojol,” jelasnya.

Sementara itu, pedagang lainnya, Haryati mengaku selama ini merasa terbantu dengan keberadaan ojol. Pasalnya, pembeli banyak yang pesan melalui ojol. Sehingga, usahanya tetap bisa berjalan.

“Sebetulnya, tarif ojol kalau mau dinaikkan tidak masalah. Cuma, ini bisa mempengaruhi pelanggan yang selama ini rutin pesan makanan lewat ojol,” ucap perempuan berkerudung itu.

Kata Haryati, harga makanan yang di jual tentu tidak akan berubah. Namun, yang berubah hanya tarif jasa ojol-nya saja. Itu pun yang merasakan bukan pelaku usaha, namun pembeli.

“Kalau saya jual makan harganya Rp 10 ribu, ya tetap tidak akan berubah. Pengaruhnya bukan di harga makanan, tapi bayar ongkos ojolnya yang naik,” jelasnya.

Haryati berharap, pemerintah tidak hanya fokus menangani masalah tarif ojol saja. Pelaku usaha juga perlu diperhatikan. Sehingga bisa sama-sama diuntungkan.

“Kami sebagai pelaku usaha ya inginnya hanya lancar saja dagangan, banyak yang beli. Untuk hal lainnya kami tidak tahu. Itu yang tahu kan pemerintah. Semoga, kami tidak dirugikan dalam hal apa pun,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, sejumlah driver ojol yang tergabung dalam Frontal mendatangi kantor DPRD Situbondo, Senin (21/8) lalu.

Mereka mengadu lantaran ada aplikasi tarif jasa angkutan penumpang yang dipatok lebih rendah dari pada tarif yang dijadikan patokan ojol pada umumnya. Keadaan itu dinilai sangat merugikan. (wan/pri)

Editor : Ali Sodiqin
#driver antv diserang #pesan makanan #ojek online #tarif #pelanggan #Jasa #ojol #Pedagang #Ongkos bus naik