RADAR SITUBONDO – Ada yang baru dalam perayaan Hari Jadi Kabupaten Situbondo (Harjakasi) ke-205 tahun.
Yakni, adanya pakaian khas untuk acara-acara kedinasan. Namanya ‘Rasok Aghung’ yang memiliki makna "Pakaian Kebesaran atau Kemuliaan".
Ketua Dewan Kesenian Situbondo (DKS) Edy Supriyono mengatakan, Kabupaten Situbondo kini memiliki dua pakaian khas dengan peruntukan yang berbeda. Yang pertama adalah pakaian khas yang dilaunching pada 2018 bernama ‘Rasok Situbondo’.
Pakaian warna putih gading dengan belahan di bagian perut dipergunakan untuk masyarakat umum atau dipakai saat acara-acara non formal.
“Kemudian yang kedua, pakaian khas yang digunakan saat acara kedinasan dengan warna hitam digunakan oleh para pejabat pada saat acara-acara formal,” terangnya, tadi malam.
Dia menegaskan, pemilahan pakaian khas menjadi dua bukan untuk memunculkan kelas sosial. Tapi, merupakan langkah konkrit untuk memotret secara nyata keragaman budaya, bahwa pakaian yang dikenakan oleh masyarakat pada zamannya memang tidak hanya satu pakaian saja.
“Biasanya, waktu itu, disesuaikan dengan profesi atau momentumnya. Ini juga terjadi di sejumlah daerah lainnya,” imbuh Edy.
Pria yang juga pengajar di Universitas Ibrahimy Sukorejo tersebut menerangkan, bentuk dan desain pakaian khas kedinasan diambil dari pakaian yang pernah dipakai oleh Bupati Situbondo ke empat. Yakni Raden Aryo Soedibjo Koesomo.
“Pakaian ini pada tahun 2013 sebenarnya sudah pernah diformulasikan dan dipakai dalam perayaan hari jadi Kabupaten Situbondo ke-195. Hanya saja bentuknya diubah menjadi pesak dan celana. Bordiran yang ada di baju diganti batik,” ungkap Edy.
Nah, pada tahun 2023 inilah, dikembalikan ke bentuk aslinya. Yakni atasan beskap dan bawahan sarung dengan desain bordiran warna emas disesuaikan dengan ikon-ikon batik Situbondo. Sedangkan untuk pakaian perempuan adalah kebaya berwarna merah maron.
“Bentuk dan warnanya nya diambilkan dari hasil penelitian Almarhum Mbah Imam Kutunuk, salah satu seniman/budayawan di Kabupaten Situbondo tentang pakaian tradisional masyarakat Situbondo,” tandasnya.
Edy menyebutkan, dalam buku kecil tentang pakaian tradisional Situbondo yang pernah ditulis Mbah Kutunuk, disebutkan setidaknya ada empat bentuk pakaian tradisional yang pernah dipakai masyarakat Situbondo jika dikaji pada kluster keprofesian.
Yakni, petani, pedagang, nelayan serta masyarakat kota. “Bentuknya tidak ada yang sama,” pungkas Edy. (wan/pri)
Editor : Ali Sodiqin