RADAR SITUBONDO - Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Situbondo, Siti Aisyah melarang sekolah untuk melakukan penjualan buku dan seragam. Jika pun ada, jangan sampai ada pemaksaan atau diwajibkan.
Perempuan yang akrab disapa Bu Is itu mengaku sudah melarang sekolah menjual buku dan seragam kepada wali murid. Larangan tersebut disampaikan sudah sejak lama.
"Sebelum ada keluhan wali murid sekarang, kami sudah tegas melarang sekolah menjual buku dan seragam. Itu disampaikan saat pertemuan paguyuban Korwil saat berkumpul di Jatibanteng," ujarnya Minggu (23/7).
Baca Juga: DPRD Situbondo Sebut Sekolah Jadi Ladang Bisnis Jual Beli Buku dan Seragam
Selain itu, Bu Is menjelaskan, bahwa selama ini yang sering kali menjadi kebutuhan wali murid adalah buku mata pelajaran. Hal itu menyangkut muatan materi yang akan dipelajari para murid saat ada di rumah.
"LKS (Lembar Kerja Siswa) itu disiapkan sekolah karena banyak ditanyakan oleh wali murid. Akhirnya LKS itu pun disiapkan dengan sekolah," jelasnya.
Akan tetapi, Bu Is menyatakan, buku tersebut tidak wajib dibeli. Karena sudah disiapkan sekolah untuk digunakan peserta didik.
"Buku itu tidak dijual. Karena disediakan oleh sekolah untuk dipinjam peserta didik. Buku itu dibeli menggunakan anggaran BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Jadi bisa dipakai siswa," bebernya.
Kemudian, Bu Is mengatakan, pengadaan seragam sekolah pun juga tidak diwajibkan agar dibeli wali murid. Bahkan untuk kebutuhan seragam itu, bisa membeli di tempat lain.
"Contoh Pak Andi Kabid (Kepala Bidang) PPTK (Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan) kan anak sekolah di SDN Mimbaan 1. Dia tidak beli seragam di sekolah. Justru belinya di toko luar," ungkapnya.
Sementara itu, Bu Is mengaku, sudah memanggil masing-masing sekolah. Hal itu menyikapi masalah pembelian buku dan seragam yang sampai ke DPRD. "Kita juga sudah memanggil beberapa sekolah, ini langkah Dinas Pendidikan dalam rangka menyikapi keluhan wali murid," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, DPRD menilai keberadaan sekolah mulai tidak tepat sasaran. Sebab, sudah tidak fokus mencerdaskan peserta didik. Namun, ditengarai menjadi tempat usaha penjualan buku dan seragam. (wan/pri)
Editor : Ali Sodiqin