RADAR SITUBONDO – DPRD Situbondo menilai kegiatan pembelajaran di sekolah mulai tidak tepat sasaran. Sekolah saat ini tidak fokus mencerdaskan peserta didik. Namun lembaga pendidikan ditengarai menjadi tempat usaha penjualan buku dan seragam.
Anggota Fraksi Partai Demokrat, Hadi Prianto mengatakan, penjualan buku saat ini sudah menjadi fenomena baru di sekolah. Wali murid diwajibkan untuk membeli. Padahal tanpa beli, masih bisa mendapatkan buku sebagai bahan refrensi di sekolah.
“Kasus penjualan buku saat ini memang benar-benar meresahkan. Karena wali murid itu diwajibkan untuk beli. Tentu ini memberatkan orang tua siswa kalau harus dipaksa membeli buku,” ujar Hadi yang juga Ketua Komisi I DPRD Situbondo, Kamis (20/7).
Hadi mengaku, kasus tersebut sudah Dia ketahui sejak ada pengaduan dari masyarakat. Lalu, pihaknya meninjau langsung di lapangan untuk memastikan kegelisahan wali murid. Hasilnya, ada beberapa yang saat ini jualan buku.
“Ini sudah kami tindak lanjuti ke sekolah-sekolah yang diadukan wali murid. Baik yang di daerah kota maupun di wilayah pedesaan,” ucapnya.
Lebih lanjut, Hadi menyampaikan, maraknya penjualan buku di sekolah bukan tanpa sebab. Saat ini banyak penerbit buku yang datang sekolah. Mereka menawarkan agar usahanya berjalan sukses dengan menjanjikan keuntungan yang bisa didapatkan pihak sekolah.
“Ini yang parah saat ini. Jadi sekolah itu sudah bekerjasama dengan penerbit buku. Saya tidak bisa menyebutkan sekolah mana saja, tapi kasus yang terjadi dilapangan faktanya seperti itu. Dengan kerjasama itu, sekolah bisa mendapatkan keuntungan juga yang diberikan oleh pihak penerbit,” bebernya.
Selain itu, Hadi mengatakan, masalah baju seragam sekolah yang kasusnya hampir sama. Wali murid diberatkan dengan masalah kain seragam. Karena wajib membeli untuk digunakan anaknya sekolah.
“Hampir kasus penjualan baju ini. Maksud saya, untuk seragam sekolah tidak perlu harus baru terus. Kalau orang tuanya mampu tidak masalah, tapi bagaimana dengan keluarganya yang berasal dari ekonomi kurang beruntung. Kalau dipaksakan harus membeli mereka mau dapat uang dari mana? Sedangkan sekolah tidak mau tahu, yang terpenting baju seragam laku di jual,” tuturnya. (wan/pri)
Editor : Ali Sodiqin