Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Menjaga Warisan Nenek Moyang, Gula Aren di Desa Patemon Tetap Diolah Secara Tradisional

Edy Supriyono • Jumat, 9 Juni 2023 | 23:39 WIB
PULANG KERJA: Misto, warga Dusun Oloh, Desa Patemon, Kecamatan Bungatan, memikul nira dari hutan menuju rumahnya, belum lama ini. (Humaidi/Radar Situbondo)
PULANG KERJA: Misto, warga Dusun Oloh, Desa Patemon, Kecamatan Bungatan, memikul nira dari hutan menuju rumahnya, belum lama ini. (Humaidi/Radar Situbondo)
RADAR SITUBONDO – Pembuatan gula aren di Dusun Oloh, Desa Patemon, Kecamatan Bungatan, Situbondo, masih menggunakan cara tradisional. Cetakannya juga menggunakan bambu sehingga memiliki bentuk yang khas.

Ratusan orang warga masih aktif keluar masuk hutan setempat untuk mengambil nira. Mereka berlomba-lomba mendapatkan nira untuk diolah menjadi gula aren. Warga keluar dari rumah masing-masing menuju hutan bersamaan dengan terbitnya matahari.

Membawa bumbung yang terbuat dari batang bambu dengan cara dipikul merupakan kebiasaan warga Dusun Oloh. ”Dalam satu bumbung isi empat liter nira. Tiap hari saya ambil nira di hutan. Satu kali ngambil bisa bawa pulang belasan liter nira,” ungkap salah satu warga Dusun Oloh, Misto, Rabu (7/6).

Kata dia, pengambilan nira ke tengah hutan hanya butuh waktu sekitar tiga jam. Sebab, mereka tinggal mengambil bumbung yang sudah diletakkan sehari sebelumnya. Begitu mengambil nira, warga setempat langsung mengganti bumbung baru. ”Jemputnya setiap pagi saja. Habis jemput ya bekerja lainnya, yang punya sapi cari rumput, yang punya warung ya jaga warung,” kata Misto.

Photo
Photo
INI HASILNYA: Produksi gula aren secara tradisional di Dusun Oloh, Desa Patemon, Kecamatan Bungatan, yang dilakukan oleh Misto. (Humaidi/Radar Situbondo)

Setiap hari Misto menyetorkan nira tersebut kepada Husaimah, 57, istrinya. Selanjutnya, sang istri yang bekerja untuk mengolah nira menjadi gula aren. ”Hasil sadapan dari hutan saya serahkan pada istri saya. Tinggal istri saya yang mengolah hingga jadi gula aren,” ungkapnya.

Dikatakan, proses pembuatan gula aren masih dengan cara tradisional. Harapannya, agar gula aren dari Dusun Oloh memiliki ciri khas tersendiri. Terbukti dari wadah aren yang digunakan pakai bambu. Cara merebusnya juga menggunakan tungku kayu bukan kompor gas. ”Cetakan gula aren memakai bambu hingga hasilnya bundar. Bungkusnya juga pakai daun aren,” kata Misto.

Dalam satu bungkus ada sepuluh biji gula aren. Dijual dengan harga Rp 10 ribu. ”Setiap hari bisa menghasilkan 20 hingga 50 bungkus. Ya per hari dapat uang Rp 50 ribu. Kalau dilihat dari cara kerjanya tidak sebanding, tapi semua bahannya serba gratis,” tutup Misto sambil tertawa.

Kepala Dusun Oloh Mat Ali mengatakan, kegiatan menyadap nira di Hutan Polaseng sudah menjadi kegiatan ekonomi turun-temurun warga setempat. ”Menyadap nira ini sudah turun temurun, setidaknya ada sekitar 192 orang yang setiap hari pergi ke hutan mengambil nira,” tuturnya.

Di Dusun Oloh, terdapat tantangan tersendiri bagi warga. Salah satunya adalah ketersediaan nira dan pelestarian lingkungan. Ini mengingat nira yang dikumpulkan warga merupakan hasil alam dari hutan.

Mat Ali menyebut, ada peraturan desa (perdes) yang mengatur pemanfaatan hutan aren setempat. Warga tidak boleh menjualnya ke luar kampung. ”Melalui perdes ini, kami menyadari pentingnya hutan untuk warga,” pungkasnya. (hum/pri/c1) Editor : Muhammad Khoirul Rizal
#gula merah #Gula Jawa #Nira #gula aren