Bisnis makanan ringan milik perempuan asal Dusun Kerajan, Desa Bugeman, Kecamatan Kendit, Situbondo, ini, dilatarbelakangi kegemarannya mengonsumsi belalang goreng. Ibu satu anak itu kemudian mencoba meracik bumbu yang menurutnya enak di lidah.
Belalang goreng olahannya itu kemudian dibungkus lalu dijajakan melalui akun media sosial (medsos). Siapa sangka, penampilan belalang yang berwarna cokelat kemerahan dan terlihat gurih itu akhirnya dilirik orang.
”Awalnya hanya iseng saja. Begitu banyak yang pesan secara online akhirnya saya nekat beli belalang yang banyak dan saya mulai jualan online,” kata Indah, kemarin (26/5).
Sejak lima tahun silam hingga saat ini, bisnis yang dia tekuni memberikan penghasilan lumayan besar. Dalam satu hari, dia bisa meraup omzet Rp 600 ribu dari penjualan online.
”Dulu saya jual ukuran kecil pakai mika per bungkus Rp 5 ribu. Sekarang sudah dibungkus jadi setengah kilogram, harganya Rp 60 ribu. Sehari bisa menghabiskan 25 kilogram belalang. Untuk penghasilan kurang lebih Rp 600 ribu tiap hari,” kata Indah.
Dikatakan, pemasaran tidak hanya difokuskan di Kota Santri. Sebab, warga Situbondo lebih memilih menggoreng sendiri daripada membeli belalang yang sudah siap saji. Apalagi, jika harganya dinilai lebih mahal. ”Yang pesan kebanyakan dari luar Jawa, ada yang dari Malaysia, Jawa Barat, dan Korea, yang Korea rutin pesan dua minggu satu kali,” katanya.
Indah menjelaskan, belalang yang diproduksinya ada dua macam, yaitu belalang kayu dan belalang padi. Untuk belalang kayu hanya bisa dijual musiman. Sedangkan belalang yang dijual setiap hari adalah belalang sawah. ”Harga belalang sawah dari penyuluh Rp 25 ribu. Kalau belalang kayu lebih mahal dikitlah,” jelasnya.
Indah kini sudah merekrut karyawan untuk membantu proses pencarian belalang hingga proses produksi sampai penjualan. Apalagi, peminatnya semakin lama semakin banyak saja. ”Sekarang sudah ada tiga karyawan yang kerja dengan saya, kalau lagi banyak pesanan, biasanya nambah, tapi yang paten ada tiga orang,” pungkasnya. (hum/pri/c1) Editor : Muhammad Khoirul Rizal