Koordinator Pusdalop BPBD Situbondo Puriyono mengatakan, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 09.30. Saat kejadian, kondisi rumah sedang sepi karena Suryati dan Muzakki berada di ladangnya masing-masing. ”Keduanya sama-sama petani, jadi kalau pagi memang jarang ada orang di rumahnya,” jelasnya.
Puriyono mengatakan, api pertama kali terlihat oleh Uul, tetangga korban yang saat itu berada di depan rumahnya. Perempuan tersebut kaget melihat adanya kepulan asap tebal yang muncul dari rumah Suryati kemudian langsung berteriak minta tolong kepada warga. ”Warga yang mendengar teriakan ya langsung datang dan melakukan pembasahan dengan alat seadanya,” terangnya.
Dikatakan, kobaran api yang semula membakar rumah Suryati cepat membesar dan merembet ke rumah Muzakki. Upaya warga untuk memadamkan kebakaran tidak berhasil akibat api yang terlalu besar. ”Untung warga cepat mengabarkan kepada anggota Damkar sehingga anggota Damkar mengirimkan dua unit mobil pemadam. Jadi, api tidak sampai melahap habis rumah Pak Muzakki,” ucap Puriyono.
Beruntung, kebakaran tersebut tidak sampai menimbulkan korban luka maupun korban jiwa. Namun, kerugian yang dialami kedua korban cukup besar. ”Suryati mengalami kerugian materiil kurang lebih Rp 45 juta, dan Ahmad Muzakki mengalami kerugian sekitar Rp 5 juta,” beber Puriyono.
Dia menegaskan, berdasarkan asesmen kaji cepat yang dilakukan tim BPBD, api tersebut muncul dari obat nyamuk yang lupa dimatikan sebelum meninggalkan rumah. ”Obat nyamuk diletakkan di dekat tempat tidur, terus ada tumpukan kertas. Diduga kuat, sebuah bantal jatuh ke obat nyamuk hingga menimbulkan percikan api,” tandas Puriyono. (hum/pri/c1) Editor : Muhammad Khoirul Rizal