Erick, pemilik usaha mengaku, sejak tahun 1992 dirinya sudah mulai membangun usaha permainan tradisional tersebut. Hingga tahun ini masih bisa berjalan maksimal, meski banyak masyarakat lebih asyik bermain smartphone. ”Alhamdulillah, meski saat ini eranya sudah banyak yang menggunakan HP, tapi usaha saya masih berjalan. Lebih-lebih bisa untung,” ujarnya kemarin (23/1).
Erick mengatakan, sebagian waktunya dia gunakan untuk mengembangkan usahanya. ”Bagi saya selama masih bisa memberikan keuntungan, maka akan tetap saya laksanakan. Karena saya pun menjalani usaha ini bukan hanya baru satu tahun atau dua tahun, justru sudah puluhan tahun,” ungkapnya.
Menurut Erick, tidak ada rasa pesimistis meski masyarakat kini lebih banyak menggunakan ponsel sebagai sarana bermain. Justru hal itu bisa menjadikan motivasi untuk mengembangkan usahanya lebih maju lagi. ”Karena sekarang banyak masyarakat yang aktif di media sosial, maka saya harus bisa tampil di medsos juga. Ini dilakukan untuk menarik perhatian warga,” jelasnya.
Erick mencontohkan, selama masa pandemi Covid-19, usahanya itu bisa berjalan. Bahkan, sampai saat ini dirinya masih mempekerjakan belasan karyawan. ”Saat Covid-19 mulai reda, sudah kembali normal mendirikan pasar malam. Meskipun jumlah pengunjung tidak banyak,” ucapnya.
Lebih lanjut, Erick menjelaskan, menjelang tahun 2022, permintaan dari masyarakat untuk mendirikan pasar malam semakin bertambah. Bahkan, secara bersamaan pihaknya bisa mendirikan wahana tersebut di dua tempat. ”Seperti sekarang ini, di Situbondo ada dua tempat. Yaitu di Kecamatan Asembagus dan Kecamatan Kota. Ini justru kami yang diundang,” jelasnya.
Erick mengaku, untuk menarik perhatian masyarakat, perlu ada beberapa wahana permainan yang diperbarui. Upaya tersebut pun mampu membuahkan hasil. ”Kalau ikon pasar malam itu kincir angin. Sudah pasti tidak bisa diganti. Tetapi ada beberapa permainan yang ditambah untuk menarik perhatian warga,” pungkasnya. (wan/pri/c1) Editor : Muhammad Khoirul Rizal