Informasi yang dihimpun koran ini, KK26 luluh lantah pada Sabtu dini hari (24/12), sekitar pukul 12.20. Waktu Itu, sejumlah warga mendengar bunyi yang cukup keras dari lokasi yang cukup jauh dari pemukiman warga tersebut. Begitu dilihat, ternyata aula dan fasilitas lainnya sudah rata dengan tanah.
Beruntung, pada saat kejadiaan tidak ada yang sedang beraktifitas. Mengingat wisata tersebut kerap dijadikan tempat bermalam bagi pengunjung yang sekaligus mengadakan kegiatan seremonial di KK26. “Alhamdulillah tidak ada organisiasi maupun kegiatan desa yang menggunakan tempat ini lalu bermalam. Kalau ada ya pasti memakan korban, kan kejadiannya malam hari,” kata Kadari, salah satu penggiat wisata KK26 kepada Jawa Pos Radar Situbondo.
Saat koran ini datang ke tempat kejadian, tampak kerusakan cukup parah. Di antaranya aula bambu KK26, dua rumah budaya KK26, tempat berteduh kolam renang khusus anak-anak, dan sejumlah fasilitas lainnya yang tebuat dari bambu rusak total.
“Alhamdulillah dua spot foto rumah segitiga yang baru saja berdiri di wisata ini (KK26) tidak diterjang angin. Kalau dua spot foto itu hancur sudah tidak ada yang tersisa di wisata kebanggan Desa Oleyan ini,” ujar Kadari sambil mencatat kerugian yang dialami KK26.
Dari hasil penghitungan sementara pengelola KK26, kerugian yang harus ditanggung sangat banyak. “Kalau taksiran kami, kerugian yang dialami kurang lebih Rp 400 juta. Tetapi kalau dihitung dengan prosesnya hingga menjadi wisata kebanggan warga Desa Oleyan, tentu tidak ternilai harganya,” ucap Kadari.
Kepala Desa Olean, Ansori mengaku sangat terpukul dengan adanya bencana alam itu. Sejumlah fasilitas penting di objek wisata yang sudah dibangun dengan susah payah, kini harus berakhir karena amukan angin. Dia berharap ada upaya dari pemerintah Kabupaten untuk menggelontorkan anggaran guna memperbaiki wisata tersebut kembali seperti semula.
“Kami hanya bisa berharap, pemerintah melakukan pembenahan secara total. Sebab tidak mudah bagi kami dalam membagun wisata yang sudah terkenal di Kota Santri ini,” harap Ansori. (hum/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal