Plt. Kepala Dinkes, dr. Sandi Hendrayono mengatakan, penyakit HIV/AIDS merupakan penyakit berbahaya. Masyarakat perlu mengetahui dampak jika terpapar. Sehingga, Dinkes Situbondo kemudian berinisiatif turun ke jalan menyampaikan langsung kepada pengendara. “Kegiatan ini dilakukan untuk menyampaikan kepada masyarakat tentang bahaya penyakit HIV/AIDS. Agar warga yang tidak tahu menjadi tahu,” ujarnya, Kamis (1/12).
Sandi menyebutkan, sasaran yang dituju untuk kegiatan orasi kesehatan itu adalah sejumlah kendaraan. Salah satunya sopir truk atau kendaraan roda empat lain yang jarang pulang ke rumah. “Kami menyampaikan kepada sopir truk atau pengendara motor yang kerjanya jauh dari rumah. Agar mereka lebih hati-hati. Sehingga tidak membawa virus ketika ada di rumah,” ungkapnya.
Selain itu, Sandi mengatakan, kasus HIV/AIDS di Situbondo hingga tahun 2022 mencapai 1.103 orang terkonfirmasi positif. Temuan kasus baru hingga Bulan Oktober 2022 sebanyak 400 orang. Sedangkan sebanyak 703 orang terkonfirmasi positif HIV/AIDS sudah terjadi sejak beberapa tahun sebelumnya.
“Meski banyak yang terpapar HIV/AIDS, masih minim sekali orang untuk melakukan pengobatan. Padahal pemerintah sudah menyediakan tempat khusus untuk menangani pasien tersebut. Yakni ada 20 puskesmas dan satu rumah sakit,” ungkap pria yang juga menjabat sebagai direktur RSUD. Asembagus tersebut.
Sandi mengaku, banyak penderita HIV yang abai terhadap kondisi dirinya sendiri. Seperti tidak melanjutkan proses pengobatan. Padahal, pengobatan itu harus dilakukan secara teratur setiap hari. ”Dari jumlah masyarakat yang terjangkit HIV/AIDS, hanya sekitar 43 persen yang rutin mengkonsumsi obat ARV ( anti retro viral ). Selain itu, sebanyak dua persen berhenti untuk melakukan pengobatan. Dan, 25 persen berhenti berobat lebih dari 3 bulan atau disebut LFU,” jelasnya.
Dia mengaku, pemerintah berencana untuk melakukan tindakan pencegahan. Seperti mendatangi sejumlah tempat lokalisasi yang ada di Situbondo. “Nanti kami cek ke seluruh tempat lokasi, dengan melakukan pemeriksaan dan tes,” imbuhnya.
Sementara itu, Sandi mengatakan, pihaknya bersama puskesmas akan terus melakukan inovasi untuk menangani kasus HIV/AIDS. Salah satunya adalah Skrining Mobile Klinik VCT yang dilaksanakan dengan turun langsung ke tempat lokalisasi. “Sudah dipetakan terkait tempat atau Spot yang populasi kunci, seperti tempat tempat Karaoke, warung remang remang dan spot spot lain,” pungkasnya. (wan/pri/adv) Editor : Muhammad Khoirul Rizal