Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Situbondo, Sisyono memang memiliki penyakit sesak nafas. Hal itu disampaikan oleh Sisyono sendiri kepada rekan sesama sopirnya saat makan bareng di warung nasi Asembagus.
“Dia memang sakit, dia bilang sendiri kepada saya kalau lagi pusing dan sakit kepala. Dia juga mengaku punya penyakit sesak nafas,” ungkap Subandi, warga Banyuwangi yang kebetulan berangkat bereng dengan korban.
Kata Subandi, Sisyono sampai di gudang pupuk tersebut sejak Kamis lalu (17/11). Saat itu, korban masih beraktifvitas dan memperbaiki terpal untuk menutup pupuk yang berada di atas truk. “Saat sampai di sini (gudang bulog), truk milik Sisyono diparkir di luar pagar. Sisyono baru memasukkan truk dengan muatan pupuk 35 ton ke halaman gudang pupuk pada hari Sabtu. Tapi untuk menurunkan muatannya, dia harus antre hingga besok (hari ini),” jelas Subandi.
Karena Subandi khawatir dengan temannya yang sakit itu, tepat pukul 11.20, Subandi mencoba untuk membangunkan temannya. Sebab dia melihat kaki Sisyono terlihat berada dia atas kaca dan terlihat pucat. Melihat hal itu, Subandi langsung mengetuk pintu truk. Sayangnya Sisyono tidak bangun. Saat itu kemungkinan besar dia sudah meninggal dunia.
“Saya keget pas melihat kakinya yang pucat. Pas saya bangunkan dia tidak merespon. Jadi, saya langsung laporan ke teman-teman yang lain, agar menguhubungi polisi. Kami kan takut kalau tidak laporan,” Imbuh Subandi.
Tidak berselang lama, pukul 12. 17 Tim Inafis Polres Situbondo mendatangi lokasi dan melakukan olah TKP di lokasi kejadian. Hasilnya, mereka menemukan sejumlah obat khusus sesak nafas. Selanjutnya, korban dilarikan ke rumah sakit dr Abdoer Rahem Situbonodo untuk dilakukan otopsi. “Tim Inafis memang melakukan penanganan, tapi untuk lebih jelasnya masih menunggu hasil pemeriksaan,” pungkas Kasihumas Polres Situbondo, Iptu Ahmad Sutrisno. (hum/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal