Dalam kegiatan tersebut, dilakukan tes darah untuk mengidentifikasi ada-tidaknya penyakit HIV/AIDS. “Jadi, kita melakukan screening dengan cara mengecek darah kepada 40 PSK. Sebanyak lima orang hasilnya positif HIV/AIDS, dan langsung ditangani oleh Dinas Kesehatan (Dinkes),” terang Camat Situbondo, Jupri Setyo Utomo.
Jupri menjelaskan, pihaknya tidak bisa terlibat langsung untuk penanganan terhadap lima orang PSK. Namun, jajarannya akan mendorong ada penanganan intensif. "Saya tidak tahu nanti bagaimana penanganan yang dilakukan kepada lima orang PSK itu. Tapi, kalau nanti dilakukan rehabilitasi dan lainnya kami mendukung Dinkes," ungkapnya.
Selain itu, Jupri mengatakan, sejumlah PSK yang ada di Gunung Sampan sebagian besar dihuni oleh warga luar kota. Bahkan, minim sekali ada warga asli Situbondo. "Tadi saya juga mengecek KTP mereka. Rata-rata dari luar Situbondo. Termasuk lima orang hasilnya positif asalnya dari luar kota," kata Mantan Camat Bungatan itu.
Kata dia, kegiatan identifikasi penyakit HIV/AIDS akan rutin digelar. Rencananya akan dilaksanakan tiga bulan sekali. "Ini penting untuk kami agendakan. Selain di Gunung Sampan juga kemungkinan di beberapa tempat lain. Tapi waktunya masih belum tau kapan akan dilaksanakan," jelasnya.
Jupri mengaku, dirinya simpati terhadap nasib para PSK. Mereka rela bekerja di tempat tersebut karena beberapa faktor yang melatarbelakangi. "Saat saya ajak ngobrol mereka kenapa memilih pekerjaan tersebut karena faktor ekonomi. Penyebab ekonomi itulah mereka nekat untuk masuk dalam tempat tersebut," jelasnya.
Masih kata Jupri, selain faktor ekonomi, para PSK memilih bekerja di tempat hiburan itu karena faktor keluarga. Saat membangun hubungan sebagai suami-istri, suaminya kedapatan selingkuh dengan perempuan lain. "Ada yang mengaku mereka kerja di tempat hiburan ini (Gunung Sampan) karena diselingkuhi suaminya," pungkasnya. (wan/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal