Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Cek Langsung Bendungan Sampean Baru

Edy Supriyono • Rabu, 9 November 2022 | 21:08 WIB
WASPADA BANJIR :Bupati Situbondo, Drs. Karna Suswandi Wawan Setiawan meninjau pintu air di Dam Pntu Lima Desa Kotakan, Kecamatan Kota, Selasa (8/11). (Iwan Feriyanto/Radar Situbondo)
WASPADA BANJIR :Bupati Situbondo, Drs. Karna Suswandi Wawan Setiawan meninjau pintu air di Dam Pntu Lima Desa Kotakan, Kecamatan Kota, Selasa (8/11). (Iwan Feriyanto/Radar Situbondo)
Bupati Situbondo, Drs. Karna Suswandi meminta pemerintah pusat bergerak cepat mengatasi sedimen di Bendungan Sampean Baru, Kecamatan Tapen, Kabupaten Bondowoso. Sebab, 90 persen sudah berisi tanah. Sehingga sangat berpotensi menimbulkan bencana banjir.

Keadaan ini mengundang perhatian Bupati Situbondo dan sejumlah pejabat terkait untuk meninjau langsung keadaan Bendungan Sampean Baru, Selasa (8/11). “Sedimentasi di Bendungan Sampean Baru sudah mencapai 90 persen. Jika tidak dilakukan pengerukan, berpotensi banjir bandang. Sebab, Bendungan Sampean Baru tidak bisa menampung jumlah air dengan volume besar,” terang Bupati pada sejumlah wartawan.

Bupati menerangkan, saat sudah masuk musim penghujan. Jika terjadi hujan deras secara intens setiap hari, maka Bendungan Sampean Baru tidak akan mampu menampung air dalam jumlah besar. Bisa terjadi banjir bandang.

Kata dia, Kabupaten Situbondo memiliki siklus potensi banjir. Diperkirakan terjadi setiap enam tahun sekali. Sebab itulah, potensi tersebut harus dicegah lebih awal. “Situbondo berada di wilayah yang lebih rendah dari Bondowoso. Ketika suatu waktu Bendungan Sampean Baru tidak mampu menampung air, maka Situbondo akan banjir. Peristiwa banjir bandang pernah terjadi pada tahun 2002 dan 2008 silam,” jelasnya.

Bung Karna menjelaskan, beberapa tahun lalu pengerukan di Bendungan Sampean Baru rutin dilakukan. Biasanya lima tahun sekali. “Dulu saya tahu sendiri, sedimen sering dikeruk. Sehingga bisa menampung air dengan jumlah besar dan meminimalisir terjadinya banjir,” ungkapnya.

Jika kondisi Bendungan Sampean Baru dibiarkan seperti saat ini, maka bencana alam tidak hanya berpotensi terjadi saat musim hujan. Tetapi juga saat musim kemarau. Pasalnya, daya tampung air yang kecil itu bisa mengakibatkan wilayah Situbondo kekurangan air. “Ketika musim kemarau penyaluran air ke hilir terbatas. Sehingga masyarakat  di Situbondo kesulitan untuk mendapatkan air irigasi yang digunakan ke lahan pertanian,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Situbondo, Zainul Arifin mengatakan, untuk mengantisipasi terjadinya bencana alam, pemerintah mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) dan alat yang digunakan untuk melakukan proses evakuasi. “Apa yang kami lakukan ini dalam rangka percepatan penangan saat terjadi bencana. saya rasa itu penting untuk dipersiapkan,” ucapnya.

Zainul mengatakan, potensi bencana alam yang sering kali terjadi di Situbondo ada dua. Yakni, bencana banjir dan tanah longsor. “Kemarin dan beberapa hari sebelumnya BPBD mengecek tempat bendungan air di pintu lima Kotakan. Ini dilakukan untuk mengetahui, apakah alarm nya berfungsi  saat kondisi  air sungai naik. Hasilnya masih aktif,” pungkasnya. (wan/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal
#Waspada Banjir #Bendungan Sampean Baru