Kabid Trantib Satpol PP, Aus Sawarudin mengatakan, langkah pembacaan selawat yang dilakukan di tempat prostitusi di Kabupaten Situbondo sudah berlangsung tiga bulan. Sasarannya Gunung Sampan, Kotakan, Bandengan dan juga di daerah barat Kecamatan Besuki dan Banyuglugur.
“Tujuan program ini untuk merangkul PSK mendekatkan diri kepada Tuhan dengan membaca selawat dan dzikir. Setidaknya dengan kegiatan itu bisa membawa keberkahan kepada PSK. Siapa tahu dengan berdoa PSK bisa berubah dan mencari jalan rejeki lainnya. Kita kan hanya usaha, urusan mereka berubah urusan kehendak Tuhan,” ungkap Aus.
Setidaknya dengan adanya pengajian rutin, lanjut dia, Satpol PP bisa gampang mendata para PSK, baik itu yang baru maupun yang sudah senior. Sehingga Pol PP bisa mengantongi data yang ada di eks Lokalisasi Gunung Sampan, Desa Kotakan, Kecamatan Situbondo.
“Untuk data PSK di GS awalnya ada 50 PSK, sekarang tinggal 41 orang. Artinya sudah berkurang sepuluh orang. Yang di Bandengan ada 20, sekarang berkurang 7 orang. Yang menikah ada empat orang. Yang Bandengan dua orang, yang GS dua orang, sisanya belum diketahui ada dimana?,” kata Aus.
Untuk di wilayah Besuki dan Banyuglugur, jumlah PSK secara keseluruhan sekitar 90 orang. Sedangkan yang sering mendatangi acara pengajian ada 70 PSK. Berikutnya, diharapkan semua PSK ikut pengajian. “Khusus yang Besuki dan Banyuglugur pengajiannya disatukan di EKS lokalisasi Rajawali. Yang terpenting ada selawat dulu, untuk pendataan menyusul,” tegas Aus.
Dikatakan, sejak ada pengajian rutin, para penghibur pria hidung belang itu sudah banyak yang sadar. Dalam perkembangannya, setiap acara pengajian rutin PSK mulai menyumbangkan konsumsi untuk dimakan bersama.
“Kami juga kaget, begitu ada pengajian makanan dan minuman sudah lengkap. Mereka sudah lebih semangat dari Pol PP dalam mengadakan pengajian. Bahkan, dalam acara maulid ada salah satu PSK yang menanggung semua makanan. Pas ditanyakan, ternyata sudah niat menyambut maulid,” pungkas Aus. (hum/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal