Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dua Pabrik Gula Gulung Tikar, Tiga Masih Bertahan

Edy Supriyono • Senin, 3 Oktober 2022 | 18:39 WIB
TEMPAT KEJADIAN: Salah satu warung ngopi di jalan Kampung Krajan, Desa/Kecamatan Kendit. (Humaidi/Radar Situbondo)
TEMPAT KEJADIAN: Salah satu warung ngopi di jalan Kampung Krajan, Desa/Kecamatan Kendit. (Humaidi/Radar Situbondo)
SITUBONDO, Jawa Pos Radar Situbondo – Kabupaten Situbondo bukan hanya dikenal sebagai Kota Santri, tapi juga layak dijuluki Kota Gula di Pulau Jawa. Pada masa kejayaannya, hampir setiap kecamatan di Situbondo memiliki pabrik gula (PG).

Setidaknya ada lima PG yang terdaftar di Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Situbondo. Yakni, PG Deemas, PG Wringinanom, PG Olean, PG Pandjie dan PG Asembagus (selengkapnya lihat grafis). Sebenarnya ada satu PG lagi, yakni di Kecamatan Mangaran. Namun, kapasitasnya adalah yang paling kecil di antara yang ada di Situbondo.

Dari lima PG tersebut di atas, dua di antaranya sudah mengalami gulung tikar. Yaitu PG Olean dan PG Demaas. PG Olean berhenti giling sejak tahun 2020. Sedangkan PG Demaas berhenti sejak tahun 2000 silam. ”Dari lima PG yang ada di Kabupaten Situbondo, hanya ada tiga PG yang masih beroperasi. Sedangkan dua PG sudah mengalami gulung tikar,” ujar Kadiskoperindag Situbondo, Nugroho.

Nugroho menjelaskan, PG yang ada di Kabupaten Situbondo merupakan usaha dengan skala kecil maupun menengah. Produksinya hampir 10.721 kilogram gula pasir di setiap perusahaan. ”Hampir keseluruhan PG di Kabupaten Situbondo merupakan milik BUMN yaitu PT Perkebunan Nusantara XI,” katanya.

Bangunan PG di Situbondo, lanjut Nugroho, seluruhnya merupakan bangunan lama sejak zaman Belanda. Tepatnya sekitar tahun 1830 Kabupaten Situbondo mengalami masa keemasan menjadi daerah perkembangan agrobisnis. ”Saat itu pada zaman kekuasaan Raden Prawirodiningrat II, Kota Santri ini dibawa menjadi pusat perkembangan ekonomi yang sangat mencolok adalah dengan berdirinya PG-PG,” terangnya.

Namun, jelas Nugroho, seiring perkembangan zaman, sedikit demi sedikit, kejayaan PG yang ada di Kota Santri mulai meredup. Salah satunya karena banyaknya persaingan. ”Terbukti dari lima PG yang ada, dua di antaranya sudah gulung tikar. Karena, tidak produksi lagi,” cetusnya.

Selain karena persaingan, minimnya bahan baku produksi juga menjadi penyebab sejumlah PG di Situbondo gulung tikar. ”Memang luasan lahan produksi tebu di Kabupaten Situbondo cukup banyak, tetapi juga banyak yang sudah dimiliki oleh perusahaan lain. Bukan hanya PG yang ada di Kabupaten Situbondo,” ungkapnya.

Nugroho menyebut, persaingan bisnis sebenarnya hal yang sangat wajar. Meski sejumlah PG yang ada di Kabupaten Situbondo merupakan warisan kolonial Belanda dan cukup dikenal masyarakat, namun dalam persaingan tetap harus berkompetisi ketat. ”Kita tidak pernah menyalahkan persaingan bisnis antar perusahaan, karena memang itu hal yang wajar dalam dunia industri,” jelasnya. (rio/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal
#situbondo #Kota Gula #tebu #pabrik gula