Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dinas Peternakan dan Perikanan Klaim Penutupan Pasar Hewan Turunkan Kasus PMK

Edy Supriyono • Senin, 5 September 2022 | 15:06 WIB
TANGANI KASUS PMK: Salah satu dokter hewan Disnakkan menyuntikkan vitamin pada sapi milik warga, di Desa Trebungan, Kecamatan Mangaran, Jumat (2/9) siang. (Iwan Feriyanto/Radar Situbondo)
TANGANI KASUS PMK: Salah satu dokter hewan Disnakkan menyuntikkan vitamin pada sapi milik warga, di Desa Trebungan, Kecamatan Mangaran, Jumat (2/9) siang. (Iwan Feriyanto/Radar Situbondo)
SITUBONDO, Jawa Pos Radar Situbondo – Kebijakan penutupan pasar hewan dinilai cukup efektif untuk mengantisipasi penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK). Kasus penyakit yang sempat menjadi pandemi ini di Situbondo kini hanya 121 ekor. Padahal awalnya mencapai ribuan ekor.

“Dulu hewan ternak yang terpapar PMK jumlahnya mencapai ribuan ekor, itu sebelum pasar hewan ditutup. Tapi setelah dihentikan sementara kegiatan di pasar, jumlah PMK mulai terkendali dan bertahap menurun,” jelas Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan, Kholil, tadi malam.

Dia menyebutkan, di sejumlah kabupaten tetangga, persebaran kasus PMK masih lumayan tinggi. Di Kabupaten Probolinggo misalnya, mencapai 8.916 kasus. Sedangkan di Kabupaten Bondowoso mencapai 2.792.  Kabupaten Jember mencapai 8.000 kasus.

“Menurunnya kasus PMK di Kabupaten Situbondo salah satunya karena ditutupnya pasar hewan. Disadari atau tidak. Jadi kita menghindari adanya kerumunan. Salah satu caranya dengan menghentikan sementara kegiatan di pasar. Karena virus PMK menular melalui udara, dan mudah menyebar pada hewan lain,” jelasnya.

Penutupannya pun, kata dia, tidak dilakukan seratus persen. Setiap dua minggu sekali, kegiatan pasar masih bisa dilaksanakan. “Dua minggu buka, tapi dua minggu lagi di tutup. Terus seperti itu, sampai PMK dapat dikendalikan,” cetusnya.

Kholil menyatakan, saat pasar dibuka, pedagang pun tidak mudah membawa peliharaannya. Sebab, harus dilengkapi dengan surat keterangan kesehatan. “Yang mengeluarkan surat keterangan sehat untuk hewannya itu adalah dokter hewan. Dokternya pun berada di puskeswan terdekat. Kalau tidak membawa, maka pedagang kami minta putar balik ke rumah,” ungkapnya.

Selain itu, Kholil mengaku, pemerintah memberikan bantuan obat gratis kepada warga. Obat itu digunakan untuk menjaga kesehatan hewan agar tidak terpapar PMK. “Penyaluran obat dilakukan secara serentak di 17 Kecamatan melalui petugas dokter hewan. Manfaatnya adalah  mampu meningkatkan imun, agar hewan tidak mudah terserang PMK,” imbuhnya.

Kata dia, obat  yang diberikan oleh pemerintah untuk menggantikan sementara waktu pemberian vaksin. Sebab, pemberian hingga saat ini masih belum tersebar secara merata karena keterbatasan stok. Kata dia, dengan memberikan obat tersebut pada hewan, masih mampu  untuk menjaga tubuh hewan tetap sehat. “Obat ini untuk  menjaga metabolisme hewan. Merangsang daya nafsu makannya agar  tetap stabil, supaya imunnya tetap kuat,” ucapnya.

Kholil menjelaskan, pemberian vaksin terhadap hewan saat ini masih terkendala karena persediaannya yang masih kurang, pemerintah daerah belum kembali menerima stok tambahan dari pemerintah pusat. “Dosis vaksin yang kita tunggu sudah ketiga kalinya. Sebelumnya sudah disalurkan pada hewan ternak milik warga,” jelasnya.

Dia menjelaskan, capaian vaksin yang masih rendah memengaruhi tehadap aktivitas perdagangan hewan. Kegiatan di pasar hewan belum bisa diaktifkan kembali secara normal kalau capaian vaksin PMK di bawah 70 persen. “Maka kami belum bisa untuk membuka kembali secara normal kegiatan pasar. Itu untuk mencegah kasus persebaran PMK, yang saat di Situbodo kasusnya sudah terendah,” ungkapnya.

Kholil meminta agar warga turut serta mengendalikan kasus PMK. Sebab, saat kasus tersebut sudah melandai, pemerintah akan membuka kembali aktivitas perdagangan. “Kami imbau untuk penjualan hewan saat ini dilakukan di rumah terlebih dahulu. tentunya lebih aman, bisa terhindar dari PMK,” pungkasnya. (wan/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal
#Kasus PMK #Vaksin PMK #penyakit hewan