Plt. Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Situbondo, Kholil mengatakan, hewan ternak yang tersedia jumlahnya cukup melimpah. Situbondo memiliki jumlah hewan yang mencukupi untuk digunakan sebagai kurban pada perayaan Idul Adha. “Untuk jumlah sapi sekitar 184 ribu ekor. Kemudian kambing jumlahnya 30 ribu ekor, dan domba jumlahnya sekitar 47 ribu ekor,” ujar Kholil, Selasa (5/7).
Dia menjelaskan, pemerintah melarang hewan ternak dikirim ke Situbondo. Terutama untuk kebutuhan hewan kurban. Selain itu, peternak dan pedagang Situbondo juga dilarang mengirim hewan ternaknya ke luar kota untuk dijual. “Larangan untuk menerima hewan ternak dari luar untuk mencegah kasus PMK semakin bertambah. Sedangkan larangan pedagang lokal menjual ke luar kota, dalam rangka mencukupi kebutuhan hewan untuk umat muslim yang akan melakukan kurban,” jelasnya.
Meski tidak menerima suplai hewan dari luar kota, Kholil mengatakan, pembatasan akses distribusi hewan ternak justru tidak memengaruhi ketersediaan. Bahkan, harga sapi di tengah pandemi PMK tidak sampai terjun bebas. “Harga sapi per ekor rata-rata masih sekitar di atas Rp. 20 juta,” ungkapnya.
Kata dia, ternak sapi yang dijual menggunakan dua cara. Seperti melalui proses timbangan terlebih dahulu. Ada juga yang dijual berdasarkan proses tebak harga. “Sapi yang dijual harus ditimbang terlebih dahulu. Satu kilogramnya dipatok harga Rp. 50 ribu. Kalau beratnya mencapai 400 kilogram, maka satu ekor sapi dibandrol harga sebesar Rp. 20 juta,” ungkapnya.
Sementara itu, Mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup itu menjelaskan, dalam waktu dekat, Disnakkan Pemkab Situbondo akan melaksanakan vaksinasi tahap kedua. Jumlah vaksin yang ada jumlahnya sekitar enam ribu dosis. “Vaksinnya sudah kami terima dari Pemkab Pasuruan. Secepatnya akan segera dilakukan suntik vaksin kembali kepada hewan ternak milik warga,” jelasnya.
Lebih lanjut, Kholil mengatakan, sekitar 3.100 hewan ternak yang sudah disuntik vaksin akan rutin ditinjau oleh petugas. Hal itu untuk memastikan hewan yang sudah disuntik benar-benar sehat. “hewan yang disuntik vaksin kami dahulukan yang masih sehat. Tujuannya agar tidak terpapar penyakit PMK,” kata Kholil.
Hewan ternak yang terpapar PMK, kata dia, tidak bisa dilakukan suntik vaksin. Ketika sembuh baru dilakukan suntik vaksin. “Sebetulnya hewan yang pernah terpapar penyakit PMK itu anti bodynya sudah terbentuk. Hanya saja proses suntik vaksin dilaksanakan untuk menjaga agar hewan tersebut semakin sehat,” pungkasnya. (wan/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal