Kabag TU Imam Tarmidzi mengatakan, selama proses pemantauan hilal dilakukan belum berhasil terlihat. Diperkirakan bentuknya yang kecil dan faktor cauca awan tebal. “Kami juga terkendala alat yang digunakan. Semuanya hampir sederhana,” ujarnya Kamis (30/6).
Kata dia, untuk menyewa alat yang digunakan harganya mahal. Sehingga memilih untuk menggunakan alat seadanya. “Yang penting itu penentuan sudut bujur utara, selatan barat dan timur sesuai itu yang menjadi patokan untuk mengetahui hilal,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua PCNU Situbondo, Dr. KH. A. Muhyiddin Khotib, M.HI mengatakan, Rukyatul Hilal sebagai aktivitas mengamati penampakan bulan sabit, dapat dilihat menggunakan mata telanjang, maupun alat bantu optik. “biasanya dapat terlihat pada saat pergantian waktu sore hari menjelang maghrib,” ucapnya.
Penentuan hilal kali ini, Kiyai Muhyiddin mengatakan, belum bisa terlihat. Selain karena faktor awan tebal, juga diperkirakan hilal masih kecil. “Maka untuk menetukan waktu Dzulhijjah masih menunggu pergantian waktu maghrib hari berikutnya,” jelasnya.
Kata dia, hasil dari pelaksanaan rukyatul hilal akan dikirim ke pengurus Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Jawa Timur. hal itu sebagai laporan sidang isbatdi kementerian agama. “Kita menunggu hasil sidah hisbat dari Kementerian Agaman RI,” pungkasnya. (wan/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal