Orang yang lewat di jalan tempat mangkal Sahmo, tidak sedikit membunyikan klakson kendaraannya. Mereka bermaksud menyapa pak Sahmo yang sedang menambal panji. Pelanggannya yang paling banyak adalah ibu rumah tangga.
“Kalau sudah dipanggil, biasanya ada peralatan dapur yang rusak. Biasanya kalau saya ke sana warga kanan-kiri juga banyak yang datang membawa barang rusak untuk diperbaiki,” kata Sahmo.
Dalam sehari, pendapatannya cukup lumayan jika dibandingkan dengan kuli bangunan yang harus berpanas-panas dan memerlukan banyak tenaga. Sedangkan Sahmo hanya tinggal datang dan menawarkan kepada orang untuk mengeluarkan alat dapur yang bocor. Harganya juga beragam, disesuaikan dengan ukuran barang yang rusak.
“Kalau tambal panci yang ukuran kecil Rp 5000, untuk yang besar dan rusaknya juga parah Rp 20 ribu. Berbeda lagi kalau mengganti pantat Sobluk (dandang) yang ukuran besar, Rp 35 ribu,” imbuh Sahmo sambil bekerja.
Kata dia, pekerjaan tersebut sudah ditekuninya sejak era Presiden Gus Dur. Hampir setiap hari, dia terus aktif berpindah-pindah desa di dua kabupaten. Yakni Bondowoso dan Situbondo. “Saat ini masih banyak orang memanggil saya untuk memperbaiki panci. Bukan hanya peralatan dapur saja, saya juga sering dipanggil orang untuk memperbaiki rumah yang bocor. Biasanya kalau seng yang rusak saya pasti di panggil sama tetangga,” jelas kakek yang memiliki dua anak dan tiga cucu itu.
Menurutnya, penghasilan setiap hari sudah cukup untuk dimakan. Hanya saja penampilannya yang kalah dengan orang kantoran yang berangkat pagi dengan pakaian rapi."Alhamdulillah setiap saya bekerja, hasil yang di dapatkan bisa sampai Rp 250 ribu. Itu kalau untung, kadung apes hanya dapat 50," pungkas Sahmo. (hum/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal