Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Jembatan Rusak Tak Kunjung Dibangun, Terpaksa Bangun Jembatan Darurat

Edy Supriyono • Rabu, 8 Juni 2022 | 17:33 WIB
GOTONG ROYONG: Puluhan warga Dusun Dauh, Desa Jatibanteng, Kecamatan Besuki, membangun jembatan sementara, Minggu lalu(5/6). (Humaidi/Radar Situbondo)
GOTONG ROYONG: Puluhan warga Dusun Dauh, Desa Jatibanteng, Kecamatan Besuki, membangun jembatan sementara, Minggu lalu(5/6). (Humaidi/Radar Situbondo)
BESUKI, Radar Situbondo - Warga Dusun Dauh, Desa Jatibanteng, Kecamatan Besuki, Situbondo, kembali resah. Ini setelah jembatan persiapan yang baru dibangun pada Minggu lalu (5/6) kembali diterjang banjir cukup besar. Sehingga, banyak warga yang menjaga sambil membersihkan kayu yang dibawa banjir.

Bamin Bhakti TNI, Serma Samsul Arifin menyebutkan, pemasangan jembatan sementara itu dilakukan, kerena kasihan dengan anak-anak di Dusun Dauh yang bersekolah ke SDN Jatibanteng. Sebab, mereka harus membuka sepatunya setiap kali mau berangkat sekolah. Bahkan ada yang harus digendong oleh orang tuanya agar sepatu dan bajunya tidak basah saat menyeberang sungai.

“Biasanya kalau musim hujan babinsa ada yang berjaga di jembatan tersebut. Penjagaan dilakukan ketika pagi dan siang hari, tujuannya untuk mengawasi anak-anak yang sekolah. Soalnya kalau tidak dijaga, anak SD sering main-main air,” ujar Samsul Arifin.

Menurut dia, sebenarnya bukan hanya kasihan kepada anak SDN saja, tetapi kepada semua masyarakat di Dusun Dauh. Baik itu guru maupun perangkat desa yang mau berangkat bekerja. Mereka tidak bisa lewat di sungai tersebut, dan harus berputar ke Kecamatan Besuki. “Kalau lewat ke Besuki jaraknya cukup jauh, makanya warga kompak membagun jembatan meskipun bersifat sementara,” jelasnya.

Sebenarnya di tempat tersebut akan dibuatkan jembataan permanen. Hanya saja, hingga saat ini belum ada proses pembangunan. Entah kerena uangnya yang tidak ada, atau masih menunggu momen yang pas untuk segera terealisasikan. Karena itulah jembatan dibuat menggunakan swadaya masyarakat.

“Bahan untuk jembatan permanen sudah ada, seperti besi dan pondasi yang dipakai saat ini. Tetapi untuk jembatannya sendiri menggunakan kayu dan bambu, itu adalah hasil gotong royong dari warga setempat,” imbuh Samsul.

Sayangnya, begitu jembatan  selesai dipasang, keadaan di selatan Desa Jatibanteng terjadi  hujan yang cukup deras. Akibatnya banjir begitu besar. Akhirnya, banyak warga yang menjaga jembatan karena takut bangunan yang baru selesai diperbaiki rusak kembali.

“Alhamdulillah tidak sampai hanyut, karena ada sebagian warga yang menjaga. Warga selalu mengambil setiap ada kayu yang menyumbat saluran air. Soalnya kalau tidak dibersihkan, jembatan bisa tertutup dan bisa jadi jembatan akan terhanyut banjir,” terangnya.

Kepala Desa Jatibanteng, Muswir menyebutkan jembatan permanen sudah terencanakan dan anggarannya tersedia. Selanjutnya tinggal menunggu waktu yang pas untuk menyelesaikan pembangunan.

“Kalau anggaran dari daerah sudah turun, pembangunannnya masih menunggu tidak ada banjir. Kalau dana yang dianggarkan tidak cukup, saya akan mencoba menganggarkan ke tingkat provinsi, agar kualitasnya benar-benar bagus dan bisa terpakai selamanya,” pungas kades. (hum/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal
#gotong-royong #Jembatan Darurat #Jembatan Rusak #jatibanteng