Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga (DP3A P2KB), Moh.Imam Darmaji mengatakan, jumlah angka stunting yang cukup besar menjadi fokus penanganan serius. Bahkan, pemerintah pusat juga memberikan perhatian yang besar. “Berdasarkan Keputusan Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional tahun 2021 tentang perluasan Kabupaten/Kota lokasi penurunan stunting, salah satunya Kabupaten Situbondo,” katanya, Kamis (19/5).
Dia mengatakan, sekitar 28 kampung KB di 17 kecematan didirikan untuk menurunkan kasus stunting pada anak bayi usia di bawah lima tahun (balita). Dalam pembentukannya memiliki kreteria tersendiri. “Fokus pendirian kampung KB berada pada kelompok masyarakat yang kurang sejahtera dalam pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari,” ungkapnya.
Imam menjelaskan, selain memaksimalkan penurunan angka stunting melalui kader KB yang ada di masing-masing Desa, Pemkab juga menurunkan petugas kesehatan. Sehingga percepatan penanganannya mudah dicapai. “Maka agar angka stunting ini bisa cepat, perlu ada penambahan petugas di lapangan. Dan itu sesuai dengan bidangnya masing-masing, seperti bidang kesehatan gizi,” jelasnya.
Menurut Imam, penanganan kasus stunting perlu ada sinergisitas dari berbagai pihak. Terutama sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terlibat langsung untuk menanggulangi kasus tersebut. seperti Dinas Kesehatan fokus kepada penanganan kesehatannya. “Salah satu contoh yakni Dinas Kesehatan berperan dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang kurang mampu,” ungkapnya.
Sementara itu, Imam menjelaskan, Kampung KB dibentuk tidak sekedar menangani kasus tentang keluarga berencana. Namun, memiliki kontribusi besar dalam membentuk keluarga yang berkualitas. Sehingga tugasnya mencegah adanya pertumbuhan stunting yang semakin meningkat. “Kampung yang berkualitas bisa diartikan dalam mewujudkan sebuah kampung sejahtera. Sehingga mampu mengatasi kasus stunting. Maka agar itu terjadi, OPD terkait turut terlibat langsung,” harapnya. (wan/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal