Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Peminat PPDB SMP Diprediksi Berkurang hingga 50 Persen

Edy Supriyono • Jumat, 20 Mei 2022 | 18:27 WIB
BERJARAK : Peserta didik di jenjang SMP mengikuti pembelajaran tatap muka di kelas, Selasa (17/5). (Iwan Feriyanto/RadarBanyuwangi.id)
BERJARAK : Peserta didik di jenjang SMP mengikuti pembelajaran tatap muka di kelas, Selasa (17/5). (Iwan Feriyanto/RadarBanyuwangi.id)
SITUBONDO – Jumlah peserta didik di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Situbondo tahun ini diprediksi masih akan terus berkurang. Kecenderungan orang tua atau siswa melanjutkan ke pendidikan pesantren menjadi faktor penyebab dominan.

Berkaca pada tahun 2021, jumlah siswa lulusan sekolah dasar (SD) yang melanjutkan ke jenjang sekolah negeri hanya sekitar 50 persen. Sementara sisanya sebagian besar memilih melanjutkan pendidikan di pondok pesantren.

Data yang diterima koran ini dari Dinas pendidikan, pada tahun 2021, siswa tamatan Sekolah Dasar (SD) negeri sekitar 8.200 siswa. Namun yang terdaftar di SMP negeri hanya sekitar 4.000 peserta didik baru. “Jadi bisa saja keadaan semacam itu akan terulang lagi pada musim penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ini,” terang Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Pendidikan dan Tenaga Pendidikan (PPTK) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Andi Yulian Haryanto, Selasa (17/5).

Akibat kejadian tersebut, ada beberapa sekolah yang ruangan kelasnya kosong. Karena kekurangan siswa. Andi mengatakan, ada pergeseran minat siswa melanjutkan pendidikan ke sekolah negeri. Mereka  memilih melanjutkan studinya di dalam lingkungan pondok pesantren. “Anak sekolah lulusan SD itu kira-kira mulai melanjutkan belajar di dalam pondok pesantren, dan jumlahnya meningkat. Sekitar 50 persen dari jumlah kelulusan tamatan SD yang mondok,” ungkapnya.

Andi mengaku,  sejumlah anak didik yang memilih untuk melanjutkan belajar di pondok belum diketahui alasannya secara pasti. Namun salah satunya, diawali karena pembelajaran yang dilakukan secara online. “Kalau sekolah negeri selama pandemi Covid-19 menerapkan sistem belajar daring. Mungkin karena merasa jenuh, baik dari orang tua dan anaknya. Sehingga memilih untuk mondok,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu warga asal Panarukan, Hadi mengaku, setelah anak kandungnya lulus SD, dilanjutkan dengan menempuh pendidikan di pondok pesantren. Selain mendapat ilmu pendidikan umum di sekolah, juga bisa mendapatkan ilmu agama. “yang penting masuk pondok pengetahuan agama luas,” ungkapnya.

Hadi mengatakan tidak pernah memaksakan seluruh anaknya untuk mondok. Sebab, itu menjadi perminataannya sendiri. sebagai orang tua mendukung dan mensupport yang mejadi pilihannya. “anak pertama saya juga mondok dan sudah kelas tiga SMP. Anak kedua ini juga minta untuk mondok. Yasudah saya turuti kemauannya,” tuturnya. (wan/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal
#pesantren #pendidikan #covid-19 #mondo