SITUBONDO - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Situbondo menggelar ‘Rembuk Stunting’, Senin (28/3/2022). Langkah ini diambil sebagai upaya percepatan, pencegahan serta penurunan Stunting di Situbondo.
Acara yang digeber di aula Pemkab tersebut, dihadiri Wakil Bupati Situbondo, Nyai. Hj. Khoirani; Sekretaris Daerah, Syaifullah; Kepala Bappeda, Drs. Sugiono; para Kepala Puskesmas, jajaran camat, dan kepala desa lokus stunting, serta narasumber dari FKM Universitas Negeri Jember.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Situbondo, Nyai. Hj. Khoirani mengatakan, upaya pencegahan dan penurunan angka stunting menjadi salah satu perhatian Presiden RI, Joko Widodo. Di mana, saat ini stunting di Indonesia mencapai 24,4 persen. Presiden menargetkan tahun 2024 Prevalensi stunting Indonesia menjadi 14 persen. Sedangkan stunting di Jawa Timur mencapai 23,5 persen.
Untuk itu, Wabup menegaskan, penanganan stunting di Kabupaten Situbondo bukan hanya tanggung jawab Dinas Kesehatan semata. Melainkan tugas semua pihak. Mulai dari tingkat Kabupaten hingga desa. “Prevalensi stunting di Situbondo saat ini 23,7 persen. Turun dibandingkan tahun sebelumnya mencapai 26,73 persen,” ujarnya kepada sejumlah wartawan, kemarin.
Dia menjelaskan, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis yang terjadi sejak ibu mulai mengandung sampai anak berusia dua tahun. Sehingga, dapat mengakibatkan otak dan fisik anak sulit berkembang, serta akan mempengaruhi kognitif. Permasalah stunting ini tidak hanya menjadi masalah saat ini. Namun, dampak negatif juga akan dirasakan di masa yang akan datang.
“Lagi pula bukan hanya pada penderita saja, juga akan berdampak terhadap ketersediaan SDM berkualitas dalam pembangunan masyarakat Situbondo dan Indonesia pada umumnya. Permasalah stunting ini bukan hanya permasalah kesehatan semata. Stunting juga menyebabkan masalah di banyak sektor, dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Jadi, penanganan stunting tidak hanya menjadi tugas sektor kesehatan saja, tapi menjadi tugas banyak pihak,” ungkapnya.
Kata Wabup, berbagai dilakukan pemerintah dalam mengantisipasi dampak pandemi Covid 19. Khususnya pada kelompok rentan, seperti Ibu hamil maupun balita dapat memberikan hasil yang cukup menggembirakan. Sebab, selama dua tahun terakhir permasalah stunting di Indonesia menunjukkan terjadinya penurunan.
“Sedangkan penilaian status gizi balita ini erat kaitannya dengan sasaran pokok yang ingin dicapai dalam program 'Indonesia Sehat' pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Yakni, peningkatan status kesehatan dan gizi anak,” paparnya.
Disebutkan, pemerintah pusat akan memberikan perhatian khusus pada pemerintah daerah, termasuk Situbondo. Pemkab wajib menunjukkan keseriusannya dan fokus terhadap pencegahan dan menurunan stunting. Menurunan stunting tidak dilaksanakan secara singkat. Oleh karena itu, perlu dilakukan komitmen bersama dalam penanganannya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Situbondo, Dwi Herman Susilo menyampaikan, tujuan rembuk stunting kali ini untuk menyampaikan hasil analisis situasi dan rancangan rencana kegiatan intervensi penurunan stunting dari seluruh OPD. Selain itu, mendeklarasikan komitmen pemerintah daerah dan menyepakati rencana kegiatan intervensi penurunan stunting terintegrasi.
“Membangun komitmen publik dalam kegiatan pencegahan dan penurunan stunting secara terintegrasi di kabupaten Situbondo. Pemerintah telah menetapkan starategi nasional percepatan pencegahan stunting. Yang bertujuan untuk mempercepat penurunan stunting dalam kerangka kebijakan dan institusi yang ada melalui delapan aksi konvergensi stunting,” terangnya.
Dwi menerangkan, terdapat lima pilar yang bertujuan untuk meningkatkan pemantauan dan evaluasi sebagai dasar untuk memastikan pemberian layanan yang bermutu. Peningkatan akuntabilitas dan percepatan strategi nasional. Di antaranya, komitmen dan visi kepemimpinan, kampanye nasional dan komunikasi perubahan prilaku. Konvergensi, kordinasi dan konsolidasi program pusat dan daerah. Gizi dan ketahanan pangan serta pemantauan dan evaluasi.
Sedangkan, penurunan stunting di Kabupaten Situbondo telah dilakukan dengan berbagai upaya. Yakni, pemantauan balita yang dilakukan setiap bulan di posyandu yang difasilitasi petugas kesehatan. Pemberian makanan tambahan (PMT) untuk ibu hamil, balita gizi buruk, gizi kurang dan stunting. Kampanye stunting dan pelatihan konseling untuk ibu menyusui.
“Pelatihan pemberian makanan bayi dan anak, serta pelaksanaan pemulihan gizi di desa-desa. Pendampingan ibu hamil dan ibu hamil resiko tinggi, pemberian tablet tambah darah untuk bumil. Pemberian tablet pada remaja putri di sekolah-sekolah. Kemudian, survey animea di sekolah dan pembinaan kader pembangunan manusia (KPM). Penyediaan antropometri di faskes dan posyandu,” pungkasnya. (jon/pri/adv)
Editor : Ali Sodiqin