PANARUKAN - Saat air laut surut, itu menjadi berkah bagi sebagian warga pesisir Desa Peleyan, Kecamatan Panarukan, Situbondo, Jawa Timur. Mereka pergi ke pantai untuk berburu kerang. Ini juga bisa dirasakan warga dari luar desa.
Pagi itu, puluhan warga berbondong-bondong mencari kerang di bawah pasir berlumpur. Kerang yang mudah didapat saat musim air laut sedang surut, membuat warga semakin bersemangat memburunya.
Suro, warga setempat mengatakan, jika air laut surut, warga sangat senang karena bisa mencari kerang. Sebab, bisa dengan mudah mendapatkan kerang sebanyak-banyaknya. Biasanya warga menggali secara manual. Dengan alat seadanya. Seperti besi, sendok dan alat lainnya. Membawa wadah untuk menampung kerang yang telah didapat. “Sekarang ini lagi musim kerang, jadi kami hampir setiap hari berburu kerang.” ujar kepada koran ini, kemarin (16/1).
Kerang yang diburu warga disebut Kerang Kepek. Biasanya kerang akan mengeluarkan bagian tubuh, atau kulitnya. "Saat air laut sedang surut, jadi lebih mudah mendapatkannya. Kerang yang telah didapat oleh warga, ada yang dijual, dan tak sedikit pula dikonsumsi sendiri," ujarnya.
Mahmudi, warga setempat juga menuturkan, berburu kerang merupakan pekerjaan rutin setiap hari. Dari hasil tangkapannya, dia jual kepada pengepul dengan harga bervariatif. "Harga perkilonya Rp 25 ribu. Sedangkan harga kerang yang sudah dikupas mencapai Rp 30 ribu hingga 35 perkilonya," ucapnya.
Pria yang akrab disapa Mudi tersebut menambahkan, cara pengupasannya cukup direbus dengan menggunakan air mendidih. Biasanya cangkang akan terbuka dengan sendirinya. "Kerang direbus dulu, untuk memudahkan pemisahan antara cangkang dan dagingnya," jelasnya.
Sementara itu, Herlin, salah satu pengunjung juga mengungkapkan, mencari kerang hanya sekedar menghibur diri. Meski demikian, hasil berburu kerang tersebut, juga dapat menopang kebutuhan sehari menambah menu masakan "Hasilnya hanya dikonsumsi sendiri," pungkasnya. (jon/ pri)
Editor : Ali Sodiqin