Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mengenal Agung Harianto, Petani Cabai Organik di Lahan Kritis

Ali Sodiqin • Sabtu, 18 Desember 2021 | 14:30 WIB
mengenal-agung-harianto-petani-cabai-organik-di-lahan-kritis
mengenal-agung-harianto-petani-cabai-organik-di-lahan-kritis


ASEMBAGUS - Tanaman cabe tidak harus menggunakan lahan persawahan maupun perkebunanan. Namun, juga bisa dilakukan di tanah padat atau bebatuan. Caranya dengan menggunakan pupuk secara organik dengan menggunakan polibag.



Agung Hariyanto, tokoh pemuda asal Desa Kertosari, Kecamatan Asembagus, Situbondo, itu sedang melakukan ujicoba pada lahan kritis, Yakni memanfaatkan lahan-lahan pekarangan milik warga Pedukuhan Lowa, Desa Bantal yang dikenal dengan lahan kritis. Keprihatinan Agung sebagai tokoh pemuda selama ini sering blusukan ke kelompok-kelompok masyarakat pinggiran hutan. Ia mencoba melakukan usaha pertanian organik pada lahan berbatu paras.



Beberapa bulan yang lalu, Agung bersama rekan-rekannya, Misro dan Arif mencoba memanfaatkan lahan pekarangan milik warga yang tidak terpakai. Sebab, kondisi tanah yang berbatu paras. Awalnya, Agung dan rekannya itu hanya melakukan ujicoba menggunakan fasilitas polibag yang diisi pasir dan tanah ditata sedemikian rupa hingga menyerupai lahan perkebunan.



Tujuannya jika tanaman tersebut berhasil, bisa ditiru oleh masyarakat Lowa, Pariyopo, Samir, Leket dan Belikeran yang rata-rata mereka bercocok tanam hanya saat musim hujan saja. “Saya merasa terpanggil dan harus mencari solusi atas permasalahan mereka, bukan saya seperti pahlawan mas, tapi setidaknya kami hadir bisa memberikan manfaat untuk perekonomian mereka,” ujarnya kepada RadarBanyuwangi.id, Rabu (15/12).



Kata Agung, tanaman cabe melalui polibag di atas lahan kritis, ternyata lumayan prospek. “Kini menghasilkan cabe antara 3-4 kilogram per dua minggu. Dengan kondisi harga cabe saat ini sekitar Rp 50 ribu hingga 60 ribu per kilogram,” papar Arif.



Lebih lanjut Agung menjelaskan, pihaknya awalnya hanya memasang sekitar 500 bibit, dengan menggunakan pupuk organik kohe, produksi dari Laboratorium Bismillah milik Holip, serta seorang tokoh pemuda dari Desa Awar-awar Kecamatan Asembagus. “Pupuk cair organik tersebut, ternyata mampu menjawab solusi ditengah sulitnya pupuk yang beredar saat ini. Kami buat sendiri dengan belajar secara otodidak baik melalui sosmed, belajar kepada teman-teman yang sering berkegiatan dibidang keorganikan,” katanya.



Agung mengemukakan, masyarakat agraris atas lebih mengalami kesulitan dalam ketersedian air pertanian. Untuk mendapatkan bibit dan saprodi pertanian pun mereka harus turun ke bawah. Sementara, ketika harus bercocok tanam mereka harus menunggu dan memulai tanam saat hujan tiba. Mereka memiliki tradisi, adat yang lebih menarik dan berbeda daripada masyarakat agraris bawah. Kebudayaan tradisional yang dimiliki masih eksis dan terjaga hingga sekarang. “Diantaranya, pojhien, salamettan dhisa, ritual-ritual khusus yang berkaitan dengan semesta dan kemakmuran alam,” ungkapnya.



Di sisi lain, tanah yang mereka garap itu, juga tidak seperti agraris bawah. Di pegunungan banyak lahan kritis yang penuh paras dan bebatuan. Sehingga, saat musim kemarau tiba mereka tidak bisa bercocok tanam. “Masyarakat agraris atas memiliki keterbatasan sumber daya manusia lebih minim daripada masyarakat agraris bawah yang cenderung lebih modern. Oleh karena itu, butuh upaya dan sentuhan-sentuhan kreatif yang nantinya berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat atas,” pungkasnya. (mg4/pri)


Editor : Ali Sodiqin