SITUBONDO – Potensi penyebaran kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Situbondo perlu diwaspadai. Sebab, situasi saat ini berpotensi terus berlangsung. Mengingat, musim hujan sudah tiba.
Kepala Dinas Kesehatan (Diskes), Dwi Herman Susilo menerangkan, penyebaran DBD sejak awal tahun hingga saat ini tercatat 465 kasus. Tersebar di beberapa Kecamatan. Untuk itu, Dwi, menghimbau semua elemen segera melakukan pencegahan sejak dini. “Musim hujan saat ini perlu meningkatkan kewaspadaan terkait penularan DBD,” ucapnya, kemarin (23/11).
Kata Dwi, salah satu pencegahannya adalah memberantas sarang nyamuk dan melakukan tindakan 3M. Yakni, menguras, menutup tempat pembuangan air dengan rapat, dan membuang sampah yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Menurutnya, Jika ada warga yang mengalami demam beberapa hari, diharapkan segera melakukan pemeriksaan, untuk memastikan kondisi sekaligus mendapatkan penanganan. Sehingga tidak berakibat fatal.
”Pencegahan lain dengan membunuh jentik sehingga tidak meluas. Kalau fogging (penyemprotan) hanya dapat membunuh nyamuk dewasa. Jika hanya nyamuk dewasa yang mati, tentu upaya fogging tidak efektif,” imbuh Dwi.
Sementara itu, Kasie Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular Dinkes Situbondo, Heryawan menyebutkan, total kasus demam berdarah dengue (DBD) sejak Januari sampai Oktober 2021 tembus 465 kasus. Rinciannya, bulan Januari ada 111 kasus, dengan satu orang meninggal. Sedangkan bulan Februari, kasus DBD sebanyak 197 dengan angka kematian 1 orang.
Selanjutnya, kasus DBD bulan Maret dan April, masing-masing sebanyak 98 dan 82 kasus dengan angka kematian, yakni satu orang. Namun bulan Mei dan Juni 2021, kasus DBD di angka 44 dan 12 kasus, dengan angka kematian nol atau nihil. “Mulai bulan Mei, angka penderita DBD mulai menurun. Namun, empat bulan pertama, dari Januari-April angka penderita DBD cukup tinggi,” jelasnya.
Heryawan kembali menjelaskan, dalam empat bulan terakhir, mulai Juli hingga Oktober, kasus penderita DBD semakin menurun. Buktinya, bulan Juli dan Agustus penularan DBD hanya 4 kasus. Sedangkan bulan September hanya 3 kasus DBD.“Pada bulan Oktober, tidak ditemukan warga yang menderita DBD, juga tidak ada warga yang meninggal disebabkan penyakit DBD,” katanya.
Diterangkan, penyakit DBD biasanya terjadi pada hari ke empat dengan kondisi badan panas tinggi sampai 38-40 celcius. Namun, ketika memasuki hari kelima suhu panas badan baru mulai turun. Tentu kondisi inilah justru berbahaya bagi orang tua yang biasanya menganggap anak tersebut sudah sembuh.“Kebiasaan lain jika ada anak sakit DBD, tidak segera merujuk ke rumah sakit atau faskes lainnya. Sebaliknya baru merujuk anak ke RS saat kondisi sudah memburuk,” terang Heryawan.
Potensi penyebaran DBD juga menjadi perhatian Ketua Komisi IV DPRD Situbondo, Arifin. Dia mengatakan, Dinas Kesehatan (Dinkes) segera mengambil langkah-langkah pecegahan, seperti melakukan fogging atau pencegahan lainnya dengan baik. Sebab, saat ini sudah memasuki musim hujan. Sehingga berpotensi semakin marak terjadinya DBD.
“Langkah cepat, pertama pencegahan, bagi daerah atau kecamatan, bahkan desa ada kasus DBD itu harus menjadi perhatian khusus Dinas Kesehatan. Kami akan melakukan fungsi control untuk mendukung langkah Dinkes. Jadi titik-titik mana saja yang sudah ditangani kasus DBD tersebut,”pungkasnya. (jon/pri)
Editor : Ali Sodiqin