PANARUKAN – Sadin sudah tujuh tahun berjualan batu akik dan benda-benda pusaka di Pasar Mimbaan Baru, Kecamatan Panji, Situbondo. Pria 55 tahun ini ingin sekali bisa punya ruko. Namun, obsesi itu sepertinya sangat sulit untuk terpenuhi.
Saat koran ini datang ke lapak Sadin, Sabtu (23/10), pria asal Dusun Tabedah, Desa Peleyan, Kecamatan Panarukan, Situbondo, itu sedang membersihkan dagangannya. Setelah dilap dengan kain, sejumlah keris yang belum bergagang diletakkan kembali di lapaknya. “Kalau tidak sering-sering dibersihkan, nanti bisa kusam dan berkarat. Apalagi lapak jualan saya ini di pinggir jalan,” kata Sadin.
Sadin setiap harinya memanfaatkan emperan toko yang sudah tutup untuk menggelar dagangannya. Sudah tujuh tahun. Dia berjualan keris di amperan pertokoan yang tutup. “Mau menyawa ruko namun masih belum mampu untuk membayar sewa ruko,” katanya.
Sadin mengeluhkan sepinya pembeli pusaka-pusaka yang dijualnya. Apalagi di masa pandemi seperti saat ini. “Pengunjung saja sepi, apalagi yang beli. Ada satu atau dua. Meski sebulan belum tentu laku, namun masih bisa berdagang seperti saat ini, saya harus bersyukur. Saya pasrah saja, walau memang ingin cepat segera punya ruko,” sambungnya.
Keinginan Sadin agar segera mempunyai ruko sendiri sangat wajar. Sebab, posisi lapaknya sangat tidak nyaman. Yakni, berada di bahu jalan di emperan toko yang sedang tutup. Namun, dia tak bisa berbuat banyak dengan keadaan tersebut. “Apalagi sekarang sudah mau masuk musim hujan. Ketika hujan turun airnya akan membasahi semua dagangan. Ini tidak baik bagi keris-keris yang saya jual ini. Makanya, tidak saya pajang semua,” ungkap Sadin.
Harga keris yang dijual Sadin tidak lah seberapa. Di kisaran Rp 200 hingga 300 ribu, "Keris Nogososro ini biasanya yang sering diminati karena masuk dalam barang antik dan bisa saja memiliki tuah tertentu tergantung keyakinan kita," ungkapnya. “Keris seperti ini butuh tempat yang layak untuk memajangnya, tidak seperti tempat seperti ini (amperan toko),” sambungnya.
Sadin menambahkan, selain menjual keris, dia juga menjual bergai macam batu akik dan pusaka-pusaka yang lainnya. "Sebelum berjualan keris, saya sempat menjadi pedagang asongan di seputaran terminal Situbondo," pungkasnya. (mg4/pri)
Editor : Ali Sodiqin