RadarBanyuwangi.id - Tempat sampah dari anyaman bambu tidak terlalu diminati masyarakat. Bahkan, kerap tidak ada pembeli. Seperti yang dialami Hosin. Untuk mendapatkan pembeli, dia harus bermalam di pasar.
Hosin sudah tidak ingat berapa tahun dia menjalani profesinya tersebut. Yang pasti, sudah puluhan tahun. Pria 60 tahun itu hanya ingat, bahwa awal-awal menjadi penjual tempat sampah keliling, masih banyak beroperasi dokar di sekitar kota Situbondo.
Ketika itu, dia jualan dengan menaiki sepeda ontel yang masih digunakannya hingga sekarang. Dia menceritakan, pembelinya juga sangat banyak. Dalam sehari, tempat sampah anyaman bambu yang dijualnya, selalu habis. “Beda dengan sekarang yang jarang pembeli,” katanya.
Hosin mengatakan, saat ini dagangannya sangat jarang laku. Dalam sehari, paling banyak terjual lima buah. Karena lebih sering jarang laku, dia tidak pulang ke rumahnya di Kecamatan Cerme, Bondowoso. “Saya nginap di pasar,” ujarnya.
Pria tiga anak dan dua cucu ini bermalam di Pasar Senggol. Dia biasaya nginap di pasar selama dua malam. Setelah itu, dia pulang ke rumahnya. Keesokan harinya Hosin balik lagi untuk jualan keliling. “Pasar saya memang Situbondo, sejak dulu,” tambahnya.
Dia selalu bermalam di pasar Senggol. Alasan memilih pasar yang ada di Jalan Pemuda ini, karena lebih aman. Selama ini, dia tidak pernah mengalami gangguan keamanan. “Kalau di pasar-pasar lain tidak berani,” kata Hosin.
Penghasilan dari profesinya tersebut tidak seberapa. Dalam satu buah tempat sampah, keuntungannya Rp 5.000. Jika sehari laku lima buah, dia mendapatkan penghasilan Rp 25 ribu. “Tapi jarang laku sampai lima, paling sering hanya dua saja,” ujarnya.
Hosin tidak punya sumber penghasilan lain. Satu-satunya sumber pendapatannya adalah dari hasil jualan tempat sampah. Meski begitu, dia merasa tidak pernah kekurangan ekonomi. “Alhamdulillah mampu memenuhi kebutuhan keluarga,”imbuhnya.
Bagi Hosin, rezeki bukan urusan manusia. Kata dia, manusia hanya diwajibkan berusaha. Selanjutnya, Tuhan yang menentukan. Karena itu, Hosin menyerahkan sepenuhnya kepada Sang Pencipta. “Ada Pengaran yang ngatur rezeki saya,” pungkasnya. (bib)
Editor : Ali Sodiqin