SITUBONDO – Transaksi di seluruh pasar hewan di Situbondo tiga pekan lalu mengalami penurunan. Selain karena pandemi Covid-19, juga karena faktor cuaca. Akan tetapi, kini sudah mulai normal kembali.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Situbondo, Muhammad Hasanudin Riwansia mengatakan, kondisi paling parah ketika awal pandemi tahun 2020 lalu. Sebab, waktu itu pasar sempat ditutup. “Pandemi dalam dunai peternakan dianggap masa lalu,” ujarnya.
Penurunan transaksi di pasar hewan tiga pekan lalu disebabkan karena intensitas hujan mulai meningkat. Dia mengatakan, banyak daerah mengalami banjir. Apalagi, pedagang atau pembeli ternak di pasar hewan Situbondo banyak dari luar daerah. “Sehingga mereka terhambat mau datang ke pasar,” jelas Hasanudin.
Tetapi, penurunan jumlah transaksi tersebut tidak terlalu signifikan. Paling tinggi sekitar 25 persen saja. bberkisar 10-15 persen. “Tapi itu kan dua atau tiga minggu lalu. Hari ini saya kontrol, ternyata sudah normal kembali,” imbuhnya.
Sementara itu, perputaran keuangan di pasar hewan cukup tinggi. Sekitar Rp 1,4 triliun per tahun. Disnakkeswan hanya mencatat jumlah uang yang masuk. “Kita menghitung yang laku, hitungan jumlah transaksi yang ada. Teman-teman punya catatan kasar,” tambah Hasanudin.
Sementara itu, Hasanudin menjelaskan, aktivitas di tiga pasar hewan di Situbondo tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Seperti pengunjung diwajibkan menggunakan masker, menerapkan jaga jarak, serta menyediakan tempat cuci tangan. “Prokes dipastikan tetap dilaksanakan dengan baik,” jelasnya.
Dia mengatakan, pelaksanaan prokes bertujuan untuk mencegah munculnya klaster baru penularan Virus Korona. Upaya antisipasi perlu dilakukan, mengingat pasar hewan tempat berkumpulnya banyak orang, dan dari berbagai daerah.
“Kami akan terus mengawasi pelaksanaan protokol kesehatan. Jika longgar, pemerintah tidak akan segan-segan memberikan peringatan, bahkan bisa larangan beroperasi,” pungkas Hasanudin. (bib)
Editor : Ali Sodiqin