PANARUKAN – Pembagian beras bersubsidi (rasidi) di Desa Gelung, Kecamatan Panarukan mendapatkan keluhan dari pemerintah desa setempat. Sebab, pembagiannya dianggap menyalahi aturan.
Kepala Desa Gelung, Jasmoto menerangkan, ada beberapa kejanggalan dalam pembagiannya. Salah satunya, nominal harga beras yang ada di kupon tidak sesuai dengan jumlah beras yang diterima.
Dia mengaku, tiap-tiap penerima mendapatkan satu kupon. Dalam kupon tersebut tertulis harga Rp.16 ribu untuk 10 kilogram beras. Dalam kenyataannya, warga mendapatkan 20 kilogram dengan membayar Rp.32 ribu.
“Dari segi harga memang sudah benar. Tapi masalahnya, yang 10 kilogram itu tidak ada notanya, hanya Rp.16 ribu saja. Saya jadi sangsi,” ujar Jasmoto melalui sambungan telepon, kemarin (23/01).
Menurutnya, jika warga mendapatkan 20 kilogram beras, kupon yang diberikan dicantumkan harga Rp.32 ribu. Atau diberikan dua kupon dengan harga masing-masing Rp.16 ribu.
Permasalahan lain, beberapa penerima yang mendapatkan rasidi, namanya masuk dalam daftar keluarga penerima manfaat (KPM) beras sejahtera (rastra). Di satu sisi, yang tidak mendapatkan rastra, malah tidak terdaftar dalam penerima rasidi. Di Desa Gelung, penerima rasidi sebanyak 107 orang.
“Ini juga saya sayangkan. Sudah mendapatkan rastra, masih dapat beras bersubsidi. Jadi, ada yang namanya dobel. Kasian yang tidak dapat,” tambah Jasmoto.
Atas kejadian itu, Jasmoto sempat menolak pembagian beras tersebut. Jasmoto meminta agar data-data penerima divalidkan terlebih dahulu. Dia juga mendesak petugas yang mendsitribusikan beras agar memberikan kupon sesuai dengan jumlah beras yang diperoleh penerima manfaat. “Biar desa tidak disalahkan,” katanya.
Sayangnya, permintaan Jasmoto tidak diterima petugas. Mereka tetap membagi rasidi. Seorang petugas mengaku, itu sudah berdasarkan perintah dari gubernur. “Saya hanya menjalankan tugas,” terangnya.
Kadivre Bulog Bondowoso, Adhekan mengatakan, tiap-tiap KPM mendapatkan 20 kilogram rasidi. Dalam satu kilogram, ditebus dengan harga Rp.1.600. Saat ditanya tentang adanya kupon dalam pembagian, dia mengaku tidak tahu. “Masalah Teknis kami tidak ikut-ikut. Bulog hanya menyampaikan beras sejumlah yang diminta sesuai daftar yang ada. Teknis pembagian itu ada di desa,” terangnya. (bib/pri)
Editor : AF Ichsan Rasyid