Sudah beberapa tahun yang lalu sudah ada santri yang mondok di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo. Akan tetapi yang dari Thailand baru tahun ini. Di antara ketiganya, hanya satu orang yang bisa berbahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris
HABIBUL ADNAN, Banyuputih
Hanya Baneekan Madyep yang agak lancar berbahasa Indonesia. Pria yang lahir pada tanggal 20 Agustus 2001 itu juga bisa menggunakan Bahasa Inggris. Sedangkan Varit Sama-un, Usman Sohben-arlee hanya bisa berbicara dalam Bahasa Thailand.
Usman, Varit, dan Baneekan adalah warga Thailand yang saat ini sedang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah (P2S2), Sukorejo. Ketiganya duduk di bangku kelas I SMA Ibrahimy Jurusan Bahasa.
Saat wartawan koran ini mewawancarainya Sabtu (26/08) lalu, Banee-panggilan akrab Baneekan Madyep yang menjadi penerjemah. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kedua rekannya diterjemahkan Banee.
Bukan hanya kali itu saja di menjadi penerjemah. Saat dilangsungkan pembelajarn di kelas, Banee juga yang kembali menyampaikan materi-materi pembelajaran kepada kedua rekannya setelah proses belajar mengajar selesai. “Saya yang menerangkan lagi,” katanya.
Banee, Usman, dan Varit mengaku jauh-jauh menuntut ilmu ke P2S2 hanya untuk belajar ilmu agama. Mereka mengatakan ingin menguasai seluruh displin ilmu keagamaan. “Saya bercita-cita jadi penceramah,” kata Banee.
Pria asal Hathyai, Songkhla, Thailand itu mengaku senang belajar ilmu agama sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Ketika menuntut ilmu di negaranya, Banee sudah gemar belajar nahwu-sharraf. “Saya memang suka belajar kitab kuning,” katanya.
Jika Banee lebih senang dengan nahwu-sharaf, Varit menggemari pelajaran komputer. Sedangkan Usman mengaku senang dengan pelajaran matematika. Semuanya berkeinginan mondok di P2S2 hingga kuliah nanti.
Ketiganya merasa senang berada di lingkungan pesantren yang berusia lebih satu abad itu. Ada banyak alasan mereka betah belajar di P2S2. “Kalau saya karena teman-teman disini ramah semua,” kata Usman dalam Bahasa Thailand.
Selain karena teman-temannya baik, Usman mengaku senang dengan makanannya. Dia mengatakan, makanan yang dibelinya di lingkungan pesantren sangat khas sekali. Meski tidak istimewa seperti masakan di Thailand, baginya makanan di pondok jauh lebih berkah.
Hal senada juga dikatakan Varid. Dia mengaku, makanan yang ada di pondok biasa-biasa saja. Akan tetapi inilah yang membuatnya merasa sedang menuntut ilmu agama. “Karena kalau mondok itukan mengajarkan hidup mandiri,” katanya.
Ketiga warga Thailand ini mendapatkan beasiswa dari negaranya. Seluruh biaya selama di pesantren ditanggung. Selain Usman, Banee, dan Varit, masih ada lagi santri asal Thailand yang nyantri di P2S2 Sukorejo. Dia adalah Bilqis Bilsem Nadia yang mondok di asrama putri. (*)