Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Desa Pengatigan Dikenal sebagai Sentra Penjual Bunga Tabur

Syaifuddin Mahmud • Kamis, 11 Mei 2023 | 19:37 WIB
WARNA-WARNI: Penjual bunga tabur banyak ditemui di sepanjang jalan Dusun Gurit, Desa Pengatigan, Kecamatan Rogojampi. (Gareta Wardani/Radar Banyuwangi)
WARNA-WARNI: Penjual bunga tabur banyak ditemui di sepanjang jalan Dusun Gurit, Desa Pengatigan, Kecamatan Rogojampi. (Gareta Wardani/Radar Banyuwangi)
RADAR BANYUWANGI - Tak hanya Kota Malang yang dikenal sebagai Kota Bunga. Bumi Blambangan juga memiliki sentra penghasil dan penjual bunga tabur, yaitu Desa Pengatigan, Kecamatan Rogojampi.

Desa yang dipimpin Mulyadi ini cukup kesohor di Banyuwangi. Masyarakatnya dikenal guyub rukun. Desa tersebut mendapat julukan ”Desa Bunga Tabur”. Dusun Gurit menjadi pusat penghasil bunga tabur di Desa Pengatigan.

Mayoritas warga di dusun tersebut memiliki tanaman bunga tabu atau bunga hias. Tak heran ketika melewati Dusun Gurit kerap ditemui ibu-ibu penjual bunga tabur di pinggiran jalan.

Hal itu dibenarkan oleh Kepala Desa Pengatigan Mulyadi. Apabila daerah lain memiliki potensi daerah yang cukup dikenal dan biasa dimiliki, Desa Pengatigan cukup berbeda. Yakni dikenal sebagai daerah yang menghasilkan bunga tabur.

Seperti di Dusun Gurit. Setiap masyarakat menanam bunga tabur di halaman rumahnya. Bahkan, ada warga yang memiliki ladang bunga sendiri. ”Desa yang kami pimpin terkenal dengan produksi bunga tabur,” kata Mulyadi.

Pria yang telah menjabat kades selama tiga periode berturut-turut itu mengungkapkan, semarak penjual bunga tabur terlihat ramai menjelang hari besar keagamaan. Ramainya pembeli bunga menjadi ladang cuan bagi masyarakat sekitar. ”Kalau lagi panen raya, setiap hari bisa menghasilkan banyak bunga dan dijual. Pada hari-hari besar keagamaan pembeli lebih ramai lagi,” imbuhnya.

Hasil penjualan bunga mampu mengumpulkan pundi-pundi uang yang terbilang cukup fantastis. Dalam sehari penjual mampu mendapatkan penghasilan hingga Rp 1 juta.

Hal senada diungkapkan oleh Bendahara Desa Pengatigan sekaligus penjual bunga di Dusun Gurit, Nur Utami Fauziah. Nur mengakui pendapatan dari jualan bunga cukup besar mengingat permintaan masyarakat terhadap bunga tabur kian membeludak.  ”Dari dulu nenek kami sudah jualan bunga. Sekarang saya yang melanjutkan,” kata wanita berusia 35 tahun itu.

Bisnis penjualan bunga cukup menguntungkan bagi masyarakat Dusun Gurit, tak terkecuali bagi Nur. Ada tiga jenis sistem penjualan bunga tabur bagi penjual bunga dan pemilik bunga. Pertama yakni sistem bagi dua, di mana penjual dan pemilik bunga akan saling membagi rata penghasilan dari penjualan bunga. Kedua, sistem upah, yakni pemilik bunga akan memberi upah kepada penjual bunga. Terakhir, sistem beli, yaitu penjual membeli bunga dari si pemilik.

Sementara ada tiga jenis penjual bunga yang dapat ditemui di Dusun Gurit. Yakni penjual harian, mingguan, dan tahunan. Para penjual harian adalah mereka yang membuka kios bunga di pinggir jalan setiap hari. Untuk penjual mingguan hanya membuka dagangan di waktu tertentu saja, seperti hari Kamis dan Jumat. Sedangkan penjual tahunan hanya dapat ditemui di hari besar keagamaan saja. Seperti menjelang Ramadan, Hari Raya Idul Fitri, dan Lebaran Haji.

Jenis bunga yang biasa dijual beragam warna, jenis, dan ukuran. Bunga yang kerap dijual terdiri dari tiga warna, merah, kuning, dan hijau. Harga untuk setiap plastik bunga dibanderol Rp 5.000 hingga Rp 10.000. ”Ada bunga mawar, kenanga, nusa indah, kertas, dan lainnya,” lanjutnya.

Tidak hanya dikenal sebagai desa penghasil bunga tabur, Pemdes Pengatigan tengah berusaha menertibkan dan menata kembali para pedagang kaki lima (PKL) yang mangkal di sekitar Lapangan Lugjag.  Pemdes Pengatigan bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Barkah Mulia.

Bendahara BUMDes Rekanda Isna Qoimah mengatakan, penataan kembali PKL dilatarbelakangi rencana pemasangan lampu merah di simpang empat Lapangan Lugjag. Dalam rangka penertiban, dibutuhkan koordinasi berbagai pihak untuk menata para kios pedagang sehingga terlihat lebih rapi. ”Tujuan awalnya mau dibuat pujasera. Target utama yang diprioritaskan adalah warga Desa Pengatigan,” pungkasnya. (rei/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud
#Kota Bunga #Desa Pengatigan #Bunga Tabur