Sejak ratusan tahun lalu desa ini sudah dikenal padat penduduk. Sejumlah warga meyakini, desa ini dulunya lokasi Kerajaan Blambangan. Keyakinan itu diperkuat dengan adanya Situs Umpak Songo. ”Umpak Songo itu dulunya penyangga tiang Kerajaan Blambangan,” terang Kepala Desa (Kades) Tembokrejo Alfen Efendi melalui Sekretaris Desa (Sekdes) Wendhy Prasetyo.
Situs lain yang memperkuat bukti sebagai peninggalan Kerajaan Blambangan, terang Wendhy, yakni Sitihinggil atau tanah tinggi. Di tempat itu, ada batu besar yang di bagian atasnya terdapat bekas telapak kaki. Sebagian orang mempercayainya sebagai bekas telapak kaki Prabu Minak Jinggo. ”Jadi, di Desa Tembokrejo ini sudah lama dipadati permukiman, sekitar abad 12 sudah ramai,” katanya.
Dengan sejarahnya yang panjang, beberapa peninggalan kuno kerap ditemukan di desa yang berbatasan dengan Selat Bali di bagian timur itu. ”Ada batuan yang dulu digunakan sebagai benteng, Umpak Songo, sampai peninggalan sejarah lainnya seperti alat pertanian, logam, abu jenazah, dan sebagainya,” terangnya.
Wendhy menyebut, ada empat batu yang dulunya merupakan bagian dari benteng kerajaan. Saat ini benda-benda tersebut disimpan di ruang kerjanya di kantor desa. ”Batu-batu itu ditemukan secara tidak sengaja oleh petani yang sedang menggarap sawah di Dusun Krajan dan Palurejo,” katanya.
Menurut cerita dari petani yang menemukan batu tersebut, imbuh Wendhy, awalnya mereka mengira batu yang ditemukan di persawahan itu hanya batu biasa. Tapi setelah diperhatikan, ada bekas tatahan yang mengindikasikan bukan batu biasa. ”Temuan itu kemudian diserahkan ke kantor desa,” ujarnya.
Ada pula sejumlah pelestari sejarah yang secara sukarela memberikan koleksi benda bersejarah yang ditemukan di wilayah Desa Tembokrejo pada pemerintah desa. ”Koleksi benda peninggalan sejarah itu masih disimpan di ruang saya,” katanya.
Untuk Situs Umpak Songo yang dipercaya sebagai lokasi berdirinya Kerajaan Blambangan, terletak di Dusun Muncar Baru. Situs itu ditemukan pada 1916 oleh Mbah Nadi Gede. ”Dulu di daerah Umpak Songo itu hutan lebat, orang yang masuk tidak akan bisa keluar, daerah ini dikenal jalmo moro jalma mati,” kata Warisih, 71, juru rawat Situs Umpak Songo.
Hutan belantara yang angker itu, terang Warisih, akhirnya berhasil dibabat oleh Mbah Nadi Gede. Di tengah-tengah hutan ditemukan 49 batu, dan itu menjadi bukti eksistensi Kerajaan Blambangan pada abad ke-14. ”Dari 49 batu besar yang ditemukan itu, ada sembilan yang berlubang di tengahnya sehingga diberi nama Umpak Songo,” terangnya.
Situs Umpak Songo, kata Warisih, dipercaya sebagai tempat berkumpulnya orang-orang penting di masa lalu. ”Sempat juga dipakai tempat pelantikan Raden Tumenggung Wiroguno (Bupati Mas Alit) pada masa pendudukan VOC,” pungkasnya. (gas/abi/c1) Editor : Agus Baihaqi