Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sektor Pertanian Mentereng, UMKM Go Internasional

Gerda Sukarno Prayudha • Rabu, 11 Januari 2023 | 15:23 WIB
PELAYANAN: Petugas membantu proses administrasi warga di kantor Desa Pakistaji, Senin (9/2). (Gareta Wardani/RadarBanyuwangi.id)
PELAYANAN: Petugas membantu proses administrasi warga di kantor Desa Pakistaji, Senin (9/2). (Gareta Wardani/RadarBanyuwangi.id)
KABAT, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Masyarakat dan Pemerintah Desa (Pemdes) Pakistaji, Kecamatan Kabat, patut bangga. Sejumlah sektor yang digarap di desa yang satu ini mampu berbicara banyak di kancah nasional, bahkan internasional.

Tidak hanya itu, sejumlah prestasi pun berhasil diraih. Salah satunya menyabet juara favorit pada lomba Video Kreatif yang diinisiasi oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) tahun lalu. Video yang mengusung tema potensi desa itu berhasil menarik perhatian masyarakat Banyuwangi.

Photo
Photo
TAHAPAN: Proses menggambar motif batik di Butik Gondho Arum, Senin (9/1). (Gareta Wardani/RadarBanywuangi.id)

Ya, Desa Pakistaji memang menyimpan potensi yang sangat besar. Termasuk di sektor pertanian dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Hal itu diakui oleh Camat Kabat Bibin Widyatmoko. Dia menuturkan, Desa Pakistaji merupakan salah satu desa yang menyimpan potensi besar. Menurutnya, jika potensi tersebut dapat dikembangkan secara maksimal, maka tak ayal Desa Pakistaji semakin dikenal dan berkembang lebih baik. ”Ada beberapa potensi yang menjadi unggulan Desa Pakistaji, yaitu sektor pertanian, perkebunan; serta UMKM seperti batik,” ujarnya.

Desa dengan luas wilayah mencapai 669,3 hektare itu memiliki lahan pertanian dan perkebunan yang cukup luas. Rinciannya, 213 hektare lahan pertanian dan 70 hektare lahan perkebunan.

Di sektor pertanian, yang menjadi unggulan desa tersebut tak hanya berupa tanaman padi, tetapi juga tanaman palawija dan buah-buahan. Termasuk semangka yang menjadi penyumbang terbesar di sektor pertanian. Sedangkan sektor perkebunan difokuskan pada pohon kelapa.

Kepala Desa (Kades) Pakistaji Chotibul Umam membenarkan pertanian menjadi sektor terbesar desanya. Tidak tanggung-tanggung, dalam setahun hasil panen tanaman padi di Desa Pakistaji mencapai 1.200 ton gabah. ”Pertanian di Desa Pakistaji merupakan sektor penting karena mayoritas masyarakat bergantung hidupnya dari pertanian,” tuturnya.

Photo
Photo
PEREBUSAN: Warga membuat gula merah di Dusun Dadapan Desa Pakistaji, Senin (9/1). (Gareta Wardani/RadarBanyuwangi.id)

Sedangkan di sektor perkebunan, Desa Pakistaji memiliki produk olahan unggulan, yakni gula merah dan gula semut. Sebagai desa yang memiliki lahan perkebunan kelapa cukup luas, Desa Pakistaji menjadi salah satu penghasil gula merah dan gula semut. Bahkan, produk gula semut tersebut telah dikenal di berbagai negara. ”Selain petani, masyarakat Desa Pakistaji bekerja sebagai pembuat gula merah,” imbuh Umam.

Salah satu pembuat gula merah, Salamun, 58, mengatakan, dirinya dapat mengambil nira dari 27 pohon kelapa setiap hari. Selanjutnya, nira tersebut diolah menjadi gula merah. Rata-rata dalam sehari dapat menghasilkan 1 kuintal gula merah. ”Pembuat gula merah di Desa Pakistaji ini sangat banyak, bahkan dalam satu dusun saja bisa belasan pembuat gula merah,” kata bapak empat anak itu.

Selain penghasil gula merah, produk turunan berupa gula semut turut mendongkrak popularitas Desa Pakistaji. Gula semut adalah produk inovasi yang juga kerap disebut gula kristal. Salah satu keunggulan dari produk ini adalah memiliki kadar kalori yang rendah.

Satu-satunya pembuat gula semut di Desa Pakistaji, yakni Yudi Irawan, 50, mengaku produknya telah dikenal di berbagai negara. Seperti Jerman dan Singapura. Menurutnya, perajin gula semut yang tak banyak di Banyuwangi membuat Desa Pakistaji memiliki produk unggulan yang tak banyak dimiliki desa lain. ”Pasarnya melalui Bali, selanjutnya mulai dikenal oleh negara lain,” tuturnya.

Tidak berhenti sampai di situ, batik khas Banyuwangi yang diproduksi di Desa Pakistaji juga telah mendunia, yakni Batik Gondho Arum. Pemilik Butik Batik Gondho Arum Susiati, 55, membenarkan batiknya telah dikenal di berbagai kalangan. Mulai masyarakat lokal hingga mancanegara. ”Pernah kedatangan tamu dari kementerian. Tak jarang pula turis dari Amerika dan Korea berkunjung untuk membeli batik dari Desa Pakistaji,” kata ibu tiga anak itu.

Sementara itu, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Pakistaji M. Muhlis, 70, mengatakan, salah satu rencana yang akan direalisasikan dalam waktu dekat oleh pihaknya dan Pemdes Pakistaji yakni pembangunan Gedung Serbaguna. ”Ketika sudah terbangun, gedung tersebut bisa dimanfaatkan masyarakat. Baik untuk hajatan atau sekadar permainan futsal,” pungkasnya. (cw4/sgt/c1) Editor : Gerda Sukarno Prayudha
#BPMPD #Desa Membangun #Sides Smart