Hasil minor saat bersua Bali United di pekan 31 turut menjadi sorotan untuk Laskar Mahesa Jenar benar-benar keluar dari krisis.
Menyisakan tiga laga, caretaker pelatih PSIS, Muhammad Ridwan menyatakan semua laga yang ada wajib diamankan dengan poin maksimal.
“Semua pertandingan seperti final untuk sekarang ini, sehingga kami mencoba mempersiapkan sangat spesial. Karena kami tak hanya mendapatkan poin, namun harus menang dan saat ini semua pemain fokus menghadapi PSS,” kata M Ridwan.
PSIS saat menghuni juru kunci klasemen. Laskar Mahesa Jenar pun mencatatkan hasil sangat miris dengan 11 laga beruntun tak pernah menang.
Tercatat PSIS meraih 4 kali imbang dan 7 kali kekalahan. Dari 31 laga yang sudah dijalani, PSIS baru mengoleksi nilai 25. Sama dengan nilai PSS Sleman yang ada satu strip di atas atau posisi ke-17.
Ridwan pun flashback terkait laga versus Bali United. Pada pertandingan yang berlangsung di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, pada Kamis (1/5) tersebut.
Gol pertama Serdadu Tridatu tercipta di menit 22 lewat gol bunuh diri bek PSIS, Joao Ferrari. Pemain asal Brasil berusaha menghalau bola. Nahas justru menghujam ke dalam gawang PSIS sendiri.
Gol kedua untuk Bali United pun terjadi lewat bunuh diri. Tercipta menit 51, pemain PSIS, Ridho Syuhada yang mencoba menghalau umpan silang lawan di kotak penalti.
Nahas bola sepakannya justru meluncur deras ke gawang kiper Adi Satryo. Ridwan yakin kedua pemain yang melakukan gol bunuh diri tidak melakukannya secara sengaja.
“Saya pun pernah melakukan gol bunuh diri ya, kalau kita melihat siapa yang melakukan gol bunuh diri itu adalah dua pemain yang tanda kutip mereka pemain yang dari sisi agamanya mereka kuat,” ucap M Ridwan.
Menurut legenda hidup PSIS itu, keduanya hanya tidak dalam posisi yang tepat saja. “Mereka hanya kurang beruntung saja di waktu dan tempat yang kurang pas,” pungkasnya. (*)
Editor : Niklaas Andries