Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

PSIS Semarang Pecat Gilbert Agius, Rumor Seputar Tunggakan Gaji Mencuat: Benarkah?

Niklaas Andries • Rabu, 30 April 2025 | 18:15 WIB

BYE BYE: Gilbert Agius resmi berpisah dengan PSIS Semarang di Liga 1 2024/2025
BYE BYE: Gilbert Agius resmi berpisah dengan PSIS Semarang di Liga 1 2024/2025
Radarbanyuwangi.id – PSIS Semarang resmi mendepak pelatih kepala Gilbert Agius jelang musim Liga 1 2024/2025 berakhir. Yang mengejutkan keputusan itu diambil saat Laskar Mahesa Jenar memasuki fase krusial.

PSIS masih berada di posisi kedua dari bawah dengan torehan 25 poin dari 30 laga. Terkait pemecatan ini, keputusan diambil menyusul performa buruk tim yang kini berada di ambang degradasi.

situs resmi PSIS, manajemen mengumumkan berakhirnya kerja sama dengan pelatih asal Malta tersebut setelah lebih dari dua tahun menjabat.

"PSIS Semarang dan Gilbert resmi mengakhiri kontrak kerja sama yang telah dibangun selama dua tahun tiga bulan. Manajemen mengambil keputusan untuk mengakhiri kontrak Gilbert Agius dikarenakan hasil selama Liga 1 2024/25," tulis pihak PSIS, Selasa (29/4).

Gilbert mulai menangani PSIS pada 15 Februari 2023. Di musim pertamanya, dia berhasil membawa Mahesa Jenar finis di posisi keenam klasemen akhir.

Namun, pada musim ini, performa PSIS enurun drastis. Dari 30 pertandingan, PSIS hanya mencatatkan enam kemenangan dan saat ini menempati peringkat ke-17 dengan 25 poin, empat angka di bawah zona aman.

Untuk mengisi kekosongan, PSIS menunjuk mantan pemainnya, Muhammad Ridwan, sebagai pelatih sementara hingga akhir musim.

Empat laga tersisa melawan Bali United, PSS Sleman, Malut United, dan Barito Putera akan menjadi ujian berat bagi PSIS untuk bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Di balik keputusan pemecatan Gilbert Agius, muncul isu baru yang mengarah pada persoalan internal klub.

Indikasi keterlambatan gaji diembuskan Roger Bonet alias Ruxi, mantan bek PSIS Semarang, melalui unggahan kritisnya di media sosial.

Dalam pernyataannya, Ruxi menuding bahwa hak pelatih tidak dihormati klub selama berbulan-bulan, bahkan sebelum pemecatan dilakukan.

"After many months of his rights not being respected, they now put the responsibility onto him by sacking him. Shame. More respect for players and coaches. Please @appi.official @pt_lib. (Setelah berbulan-bulan haknya tidak dihormati, sekarang mereka malah melemparkan tanggung jawab kepadanya dengan memecatnya. Memalukan. Lebih hormati pemain dan pelatih. Tolong @appi.official @pt_lib)," ujar dia.

Unggahan tersebut langsung memantik spekulasi bahwa pemecatan Agius bukan semata karena performa buruk. Tetapi juga karena konflik internal yang lebih kompleks, seperti tunggakan hak finansial.

Pernyataan Ruxi membuka ruang diskusi tentang tata kelola klub. Jika benar ada tunggakan gaji atau hak yang belum dipenuhi, masalah yang dihadapi PSIS bukan sekadar di lapangan, melainkan juga terkait manajemen internal.

Pemecatan Gilbert Agius pun kini tak hanya dilihat sebagai keputusan teknis, tapi juga sebagai cerminan dari ketidakberesan pengelolaan klub. 

Kini, PSIS harus berjuang tidak hanya demi bertahan di Liga 1, tetapi juga memulihkan citra dan kepercayaan dari para pemain, pelatih, dan pendukung, yang menginginkan klub dikelola secara profesional dan transparan. (*)

 

Editor : Niklaas Andries
#barito putera #Malut United #pertandingan #psis semarang #bali united #media sosial #bek #Laskar Mahesa Jenar #gilbert agius #pss sleman #liga 1 #Internal