RadarBanyuwangi.id - Berbagai upaya dilakukan Persewangi agar Liga 4 Jatim di Banyuwangi berjalan menarik.
Pada babak 8 besar yang berlangsung mulai Rabu (11/2), Persewangi menggunakan ball girl atau anak gawang perempuan di tengah lapangan.
Ada sepuluh ball girl yang disebar di sepanjang pertandingan. Mereka berasal dari Sekolah Sepak Bola (SSB) Rajawali FC Kelurahan Kertosari.
Salah satu ball girls, Dwi Airell Devina mengatakan, ini kesempatan kali pertama tampil sebagai di event sepak bola level provinsi. Biasanya hanya anak gawang putra atau ball boy yang diajak di pertandingan resmi.
”Ini pengalaman langka, baru kali ini kami ikut pertandingan level provinsi. Sebelumnya pernah di tingkat kabupaten, di KU-16, yang menggelar juga Persewangi,” kata Airell.
Pemain berposisi wing back di tim putri ini mengatakan, meski hanya menjadi ball gir, kesempatan itu sangat disyukuri para pesepak bola wanita. Apalagi, tim yang bermain adalah Persewangi, tim kebanggaan masyarakat Banyuwangi.
”Kami bisa melihat permainan Persewangi secara langsung. Ini kesempatan yang sangat jarang,” imbuh pelajar kelas 2 SMK itu.
Kebanggaan serupa diungkapkan ball girl lainnya, Melviesya Zalsa Aprisillia, 15. Selama ini pemain sepak bola putri tak begitu dianggap di dunia olahraga yang identik dengan laki-laki itu. Tapi dengan kesempatan yang diberikan Panpel Persewangi, Zalsa merasa senang.
Gadis yang tinggal di Kelurahan Sobo itu juga mengaku banyak belajar teknik dan trik sepak bola dari cara pemain Persewangi dan tim lawan bertanding. Apalagi, dirinya baru enam bulan bergabung dengan SSB.
”Cuma ada 20 pemain putri di SSB. Setiap hari kami bergantian untuk jadi anak gawang di sini, kerjanya juga santai. Yang penting bisa melihat Persewangi langsung,” ungkap Zalsa.
Humas Persewangi Rudi Hartono Latif mengatakan, panpel melakukan berbagai upaya agar iklim sepak bola bisa kembali dirasakan masyarakat Banyuwangi saat datang ke Stadion Diponegoro.
Panpel sempat mengundang penari gandrung, kemudian maskot Persewangi, serta menghadirkan kuntulan di setiap pertandingan.
”MC kita juga perempuan. Kita ingin sepak bola benar-benar menjadi hiburan dan milik semua masyarakat,” pungkasnya. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin