Radarbanyuwangi.id – Kisruh dualisme kepengurusan organisasi sepak bola di level nasional, PSSI, juga dirasakan imbasnya di Banyuwangi. Laskar Blambangan pun terbelah dua. Satu tim dibawah naungan Nanang Nur Ahmadi dengan bendera Persewangi Banyuwangi bermain di Divisi Utama LPIS.
Satu tim lagi muncul dengan nama Persewangi Indonesia FC yang dinahkodai oleh Hari Wijaya. Persewangi yang tampil di Divisi Utama Indonesia Super League (ISL) pun seolah tampil untuk menjawab keraguan publik sepak bola Banyuwangi yang ingin tim kebanggaannya tetap eksis di kancah sepak bola nasional.
Persewangi Indonesia FC ini pun tampil di kompetisi Divisi Utama musim 2012/2013. Sepertinya kasta profesional, Laskar Blambangan turut diperkuat oleh pemain asing. Tidak sebanyak Persewangi Banyuwangi di kasta Divisi Utama LPIS.
Persewangi Indonesia FC hanya menggunakan tiga pemain asing saja kala itu. Mereka adalah Toure Morlaye dan Mohamed Lamine Fofana. Toure sendiri lebih berposisi sebagai gelandang serang. Sedangkan Mohamed Lamine Fofana berposisi sebagai bek.
Satu lagi Neson Chapparo Aguero asal Paraguay yang berposisi sebagai gelandang. Dalam Divisi Utama ISL 2012/2013 ini Persewangi Indonesia FC tergabung dalam grup lima. Dimana dalam kompetisi ini Laskar Blambangan berada satu grup dengan PSIM Jogjakarta, PPSM Magelang, Persis Solo, Mojokerto Putra, Persik Kediri, Madiun Putra.
Di akhir kompetisi, Persewangi Indonesia FC harus puas duduk di posisi keenam dari tujuh tim yang berlaga di Divisi Utama ISL. (*)
Editor : Niklaas Andries