Sudah setahun ini, remaja berusia 16 tahun kelahiran Dusun Maduran, Rogojampi, Banyuwangi, itu magang di Silla Club de Fútbol, klub sepak bola Spanyol yang berbasis di Silla.
Namanya memang kurang begitu familier di telinga pencinta bola Bumi Blambangan. Bahkan, nyaris tak terdengar layaknya pemain nasional seperti Witan Sulaeman dan Egy Maulana Vikri yang sukses merumput di klub Eropa.
Siapa sangka masih ada banyak pemain lain yang berkarir di Benua Biru, seperti halnya Dwiki Ahmad Dharmawan atau yang akrab disapa Kiki. Putra kedua pasangan suami istri Anang Nurachmadi dan Isniarsih ini sejak kecil memang hobi main bola.
”Saat masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI), anak kedua saya kerap berlatih sepak bola. Dia ikut bergabung dengan sekolah sepak bola (SSB) di Rogojampi,” ungkap Nanang, ayah dari Kiki.
Karena masih kecil, Nanang sebatas memberikan dukungan ala kadarnya seperti membelikan sepatu dan bola. Begitu hendak masuk ke jenjang SMP, bakat Kiki semakin terlihat. Kala itu, Nanang mengantarkan putra sulungnya, Israhul Ahmad Fargas, masuk kuliah di Universitas Brawijaya Malang. Karena kesulitan mencari hotel, Nanang bersama keluarga memutuskan untuk bermalam di salah satu homestay di Malang.
Pagi-pagi sekali Kiki yang baru masuk SMP ngotot ingin tinggal di Malang bersama kakaknya. Alasannya sederhana. Dia ingin masuk akademi sepak bola, yaitu Aji Santoso International Football Academy (ASIFA). ”Saat itu Kiki sudah saya daftarkan sekolah di SMPN 1 Rogojampi, tapi anaknya ngotot pingin tetap tinggal di Malang karena ingin masuk akademi sepak bola,” kenangnya.
Melihat kemauan keras sang anak, Nanang akhirnya mengiyakan permintaan Kiki untuk bersekolah di Malang sembari belajar sepak bola di ASIFA asuhan Aji Santoso. Seiring berjalannya waktu, tak di sangka Kiki justru dilirik klub PSM Makassar pada usia 16 tahun hingga kemudian memperkuat tim PSM Makassar U-16. Kiki berhasil mengantarkan PSM Makassar sebagai juara 1 Elite Pro Liga 1 U-16.
Sukses juara Liga 1 U-16, Kiki ingin mengembangkan karirnya sebagai pesepak bola profesional dengan masuk ke akademi sepak bola di luar negeri. ”Saat itu pilihannya ada tiga, yakni Portugal, Ajax Amsterdam, dan Spanyol. Kiki pilih akademi di Spanyol,” katanya.
Kiki kemudian bergabung di Spanish Pro Football atau biasa disebut SPF Academy, sebuah akademi sepak bola yang berada di Valencia. SPF Academy tergabung dalam SPF Sport Management, sebuah perusahaan yang fokus pada pembentukan dan pengembangan pemain dan pelatih yang bekerja di seluruh dunia.
SPF juga memiliki program SPF Tournament, SPF Training Camp, dan pelatihan formasi untuk pelatih. Negeri Matador memang menjadi andalan bagi banyak pemain untuk mengasah diri. ”Saya sendiri yang mengantar Kiki ke Spanyol. Saya sempat berkunjung ke klub-klub besar Eropa seperti Barcelona, Real Madrid, lainnya,” terang mantan Ketua Persewangi Banyuwangi ini.
Selama lebih satu tahun tinggal di Spanyol, Kiki sekarang magang di Silla Club de Fútbol, sebuah tim sepak bola Spanyol yang berbasis di Silla, yang tak lain komunitas Valencia. ”Saya sempat tidak percaya anak saya magang di Silla Club karena usianya masih 16 tahun. Tim pelatih percaya akan kemampuan Kiki. Saya pun merestui untuk bergabung di klub tersebut,” ungkap Nanang.
Sampai saat ini, Nanang bersama keluarga intens berkomunikasi dengan anaknya tersebut. Sejauh ini tidak ada kendala berarti. Selain fokus sepak bola, Nanang mewanti-wanti Kiki agar tetap menempuh pendidikan selama berada di Spanyol. ”Meski di luar negeri bergaul dengan teman sebayanya yang beda agama, Kiki tidak boleh meninggalkan salat lima waktu,” tandas mantan ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Rogojampi ini. (ddy/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud