Ketua Askab PSSI Banyuwangi Agung Setyo Wibowo mengatakan, puluhan SSB itu tersebar hampir di semua kecamatan. Mulai dari Banyuwangi, Wongsorejo, Kalibaru, sampai Pesanggaran. Perkembanganya pun cukup pesat karena PSSI juga mendorong pertumbuhan SSB baru. ”Tahun kemarin (2021), kita juara 3 di Piala Suratin Jatim. U-13 dipegang Ketapang FC, U-15 dipegang Persewangi Junior,” terangnya.
Sekretaris Askab PSSI Banyuwangi Pebdi Arisdiawan menjelaskan, di Jawa Timur ada tiga kota/kabupaten yang menjadi penyuplai bibit sepak bola terbanyak. Pertama adalah Surabaya disusul Kota Blitar, lalu Banyuwangi di peringkat ketiga.
Sebelum kepengurusan Askab di bawah Agung Setyo Wibowo terpilih pada 2021 lalu, tidak diketahui secara pasti berapa jumlah SSB di Banyuwangi. Barulah setelah kepengurusannya berdiri, Askab mulai melakukan registrasi melalui komite usia dini. Semua SSB diminta mendaftar.
Apalagi, sesuai regulasi PSSI, semua SSB yang mau bertanding di Piala Suratin mulai U-13, U-15 sampai U-17 wajib terdaftar di Sistem Informasi dan Administrasi PSSI (SIAP). Mau tidak mau semua SSB harus mendaftarkan diri. ”Kami memprediksi angkanya ada 60 SSB. Tapi, yang tercatat 40 saja. Banyak yang masih belum mendaftar,” ungkapnya.
Syarat untuk menjadi SSB, menurut Pebdi, tak susah. Syarat administrasi yang harus dipenuhi antara lain AD/ ART, data kepengurusan, data pemain, data pelatih, dan official. Pelatih juga diutamakan sudah memiliki lisensi D.
Selanjutnya, susunan kepengurusan harus menyertakan surat domisili dari desa atau kelurahan tempat SSB. ”Yang dibina juga jelas anak-anak usia under 17 tahun. Mulai dari usia 10, 12, 13, 15, sampai 17 tahun. Tapi ada juga klub yang membina anak-anak di usia itu,” kata Pebdi
Dengan banyaknya SSB, Askab bisa memutar kompetisi yang cukup kompetitif untuk usia 13 tahun, 15 tahun, dan 17 tahun. Bahkan, tahun ini Askab menyiapkan Liga Anak yang nantinya bisa diikuti pesepak bola usia 10 hingga 12 tahun. ”Satu SSB rata-rata punya 20 anak untuk setiap kelompok usia. Kalau mereka punya binaan dari usia 10 tahun, bisa dikalikan. Jumlah anak di setiap SSB bisa sampai 80,” ungkap mantan anggota DPRD Banyuwangi itu.
Sayangnya, meski memiliki SDM pesepak bola muda yang sangat banyak, bisa dibilang cukup minim yang bisa melanjutkan karir ke level profesional. Rata-rata, jika tak masuk dalam skuad Persewangi atau Banyuwangi Putra, bakat-bakat usia muda Banyuwangi akan mencari akademi sepak bola di luar kota. Seperti Asyifa Malang, Pati Jawa Tengah, dan Cirebon FC. Sisanya ada yang tersebar di klub-klub Liga 3 Jawa Timur.
Ada juga yang beruntung menjadi bagian dari skuad Porda dan Porprov. ”Ada juga yang turun di E Pro untuk yang under 20 tahun. Karena klub kita semuanya di Liga 3, banyak pemain yang akhirnya mencari peruntungan di luar Banyuwangi. Termasuk yang bisa masuk ke dalam timnas Garuda,” kata Pebdi.
Kepengurusan Askab PSSI Banyuwangi menargetkan dalam satu hingga dua tahun ke depan bisa mengirim lebih banyak putra Banyuwangi ke timnas. ”Itu target kami ke depan. Kekurangan kami tidak punya pengurus di pusat,” tegasnya. (fre/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud