RADARBANYUWANGI.ID - Mungkin terdengar sepele: menjemur pakaian di malam hari. Tapi di sebagian besar desa-desa di Jawa, tindakan itu bisa dianggap fatal terutama saat Bulan Suro tiba.
Menurut cerita yang beredar, masyarakat percaya, menjemur pakaian saat malam di bulan keramat ini dapat mengundang roh jahat atau makhluk halus untuk ‘menumpangi’ pakaian tersebut.
Konon, seiring malam turun di Bulan Suro, langit Jawa dipenuhi kesunyian yang terasa berbeda.
Tidak sedikit yang memilih menutup pintu rapat-rapat, membatasi aktivitas luar rumah, dan bahkan menahan suara terlalu keras.
Di tengah atmosfer mistis itulah, sebuah mitos bertahan dari generasi ke generasi, yakni jangan pernah menjemur pakaian saat malam Suro.
Pakaian Basah: Wadah Energi?
Dalam kepercayaan Jawa, pakaian menyimpan energi tubuh pemiliknya, terutama pakaian yang telah dikenakan.
Ketika dijemur di malam hari saat Suro, pakaian itu diyakini akan menjadi “kendaraan” yang bisa ditumpangi makhluk halus.
Mereka bukan hanya menempel, tetapi bisa ikut terbawa masuk ke dalam rumah, dan bahkan memengaruhi si pemilik pakaian.
Cerita-cerita tentang anak kecil yang tiba-tiba demam tinggi, sakit tanpa sebab, atau mimpi buruk berturut-turut, sering dikaitkan dengan pakaian yang dijemur di malam hari.
Apalagi jika pakaian itu tidak dicuci bersih, atau dijemur di tempat yang gelap dan lembab.
“Waktu Angker” dan Tabir Tipis Antardunia
Malam hari saat Bulan Suro dianggap sebagai waktu angker. Orang-orang tua menyebutnya sebagai saat di mana "tabir antara dunia manusia dan dunia lelembut sedang tipis-tipisnya".
Ini artinya, aktivitas gaib sedang tinggi, dan interaksi antara dua alam sangat mungkin terjadi. Bahkan lewat hal sederhana seperti setumpuk baju basah.
Bahkan ada yang percaya, jika pakaian yang dijemur malam-malam dikenakan esok harinya tanpa disetrika atau didoakan, maka tubuh pemakainya lebih rentan kerasukan atau kesurupan.
Mitos ini memang belum bisa dibuktikan secara ilmiah, namun cerita-cerita serupa muncul dari berbagai daerah.
Tradisi yang Membentuk Kebiasaan
Alih-alih hanya mitos kosong, larangan ini sejatinya juga mengandung nilai kehati-hatian.
Menjemur pakaian di malam hari jelas membuat pakaian lebih sulit kering, berbau apek, bahkan bisa jadi sarang serangga atau binatang malam.
Maka larangan ini sekaligus menjadi cara nenek moyang menanamkan kebiasaan yang lebih higienis dan disiplin waktu, dengan balutan cerita mistis agar lebih ditaati.
Tak heran, hingga kini banyak orang tua masih mengingatkan, “Ojo nganti nglumbari klambi bengi-bengi, opo meneh malam Suro. Bahaya, iso kejiret lelembut.”
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan cerita rakyat, kesaksian warga, dan pandangan spiritual yang hidup di kalangan masyarakat adat Jawa. Tidak ada klaim ilmiah atau pembuktian empiris atas keberadaan kebenarannya. Pembaca disarankan untuk menyikapi isi artikel secara bijak sebagai bagian dari tradisi lisan dan kepercayaan lokal.
Editor : Agung Sedana