RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah gempuran budaya modern dan arus globalisasi yang tak terbendung, satu warisan leluhur tetap berdiri tegak sebagai simbol kearifan lokal dan jati diri masyarakat Osing: Tari Seblang Bakungan.
Tarian adat yang sarat nilai spiritual ini masih rutin digelar setiap tahun di Desa Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.
Seblang Bakungan bukan sekadar pertunjukan seni biasa. Ia adalah ritual yang dianggap sakral, diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan permohonan keselamatan desa dari mara bahaya.
Tak heran, setiap pelaksanaannya selalu diawali dengan ziarah ke makam leluhur, disusul dengan doa-doa dan persembahan yang khusyuk.
Meski memiliki nuansa mistis yang kental, Seblang Bakungan menyimpan filosofi kehidupan yang dalam.
Gerakan tari yang ritmis dan berputar menggambarkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Bahkan, gerakan menapak tanah dipercaya sebagai simbol kehadiran roh leluhur yang memberikan berkah.
Yang unik, penari Seblang Bakungan bukan gadis muda seperti pada umumnya, melainkan perempuan tua yang telah menopause.
Mereka dipilih bukan hanya karena usia, tetapi juga karena kematangan spiritual dan kedekatannya dengan nilai-nilai adat.
Secara visual, tarian ini tampil mencolok lewat busana khas berwarna hijau dan kuning, dilengkapi selendang di pinggang dan mahkota dari daun kelapa yang dikenal dengan sebutan omprog.
Setiap detail busana dan properti tari membawa makna tersendiri yang erat kaitannya dengan filosofi lokal masyarakat Osing.
Baca Juga: Siapa Pengganti Ideal Kevin Mendoza di Persib Bandung? Pilih Cyrus Margono atau Igor Rodrigues
Sejarah Seblang sendiri masih menjadi bahan perdebatan. Ada yang menyebut tarian ini sudah ada sejak masa Kerajaan Blambangan, bahkan ada yang meyakini eksistensinya sejak era kolonial Belanda.
Yang jelas, keberadaan Seblang telah mewarnai wajah budaya Banyuwangi selama ratusan tahun.
Selain nilai spiritual, Seblang Bakungan kini mulai dilirik sebagai aset budaya yang potensial untuk dikembangkan dalam sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Pementasan di festival budaya, event pariwisata, hingga upacara kenegaraan mulai sering dilakukan tanpa menghilangkan unsur sakralnya.
Tak hanya menjadi magnet wisata, Seblang juga telah menyandang status prestisius sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia sejak 2011.
Ini menjadi bukti pengakuan atas pentingnya pelestarian budaya lokal di tengah perubahan zaman.
Masyarakat Banyuwangi pun semakin sadar akan pentingnya merawat tradisi ini.
Pelibatan generasi muda, dukungan dari pemerintah daerah, hingga penyelenggaraan festival Seblang menjadi upaya konkret agar warisan budaya ini tetap hidup dan dikenali dunia.
Seblang Bakungan tak hanya sebuah tarian, melainkan simbol persatuan, identitas budaya, dan penjaga harmoni alam dan manusia.
Sebuah bukti bahwa di tengah deru modernitas, akar budaya masih bisa tumbuh subur—selama ada yang peduli dan terus menjaga.
"Nguri-uri kabudayan, ora mung nguri-nguri nembang; tapi nguri-uri urip bebrayan." ***
Editor : Ali Sodiqin