KUTUKAN DARI BEBENG

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Dipublikasikan Sabtu, 7 November 2026 | 02:30 WIB
Cerpen oleh: Heru Marwata (STB HM)
Cerpen oleh: Heru Marwata (STB HM)

Dari dalam bongkahan kisah berabad-abad silam, terdengar lagi gema suara yang telah ratusan tahun mengembarai semesta. Kemarau memijar tanah Cangkring hingga retak-retak seperti guratan luka. Tanaman layu, air sumur menipis, dan burung-burung pun enggan berkicau.

 

Dalam derita itu, satu nama tetap berdiri tegar: Demang Sayekti. Ia bukan pejabat resmi, hanya keponakan jauh dari Demang tua yang tak lagi perkasa berdiri. Namun, bagi rakyat Kademangan Cangkring, dialah pelindung sejati. Selalu di depan saat pencuri datang, saat gerombolan rampok menyatroni desa, atau ketika warga berselisih.

 

“Demang Sayekti bukan cuma pemimpin. Ia tameng kami,” kata Kiai Banjar, sesepuh dari barat dusun, suatu malam di langgar kecil. Di sisi lain duduk Kiai Cakra dan Kiai Tanggal, tiga pengayom ruhani Cangkring.

 

“Karena beliau murid dari Almarhum Kyai Mijil, ulama besar dari lereng Gunung Sumbing,” sambung Kiai Tanggal. “Ilmu Sayekti bukan sekadar tenaga, tapi juga cahaya batin.”

 

Namun, ibarat padepokan ilmu, suatu hari ujian pun tiba. Seorang utusan kerajaan datang membawa titah: Cangkring diminta segera mengirim upeti meskipun rakyat sedang kelaparan.

 

Demang tua gelisah. “Bagaimana … bagaimana menolak titah Baginda?” gumamnya lemah. Sayekti menatap lurus sang utusan. “Kami menolak. Rakyat lebih butuh makan ketimbang kerajaan butuh upeti dalam bentuk apa pun.”

 

Pernyataan itu menggetarkan istana. Raja sangat memaklumi, tapi bisik-bisik jahat menyalakan amarah Senapati Jaya Perang, kesatria sakti yang haus pujian. Dengan restu kelabu, ia dan sepuluh prajuritnya mendatangi Cangkring, pura-pura ingin membawa Sayekti menghadap.

 

Sayekti tahu niat busuk mereka dari pesan gaib yang dikirimkan lewat aji pameling dari sahabatnya. Saat ditantang, ia menjawab tenang, “Aku tidak takut mati, tapi aku tak mau mati sia-sia.”

 

Pertarungan pun terjadi. Dalam tiga gebrakan, prajurit elit terpental. Malu, Jaya Perang mundur ke selatan ke dekat Prambanan dan menyusun rencana serta meminta bantuan pasukan tambahan sehingga ia membawa 40 orang prajurit pilihan.

 

Kabar persiapan prajurit itu kembali datang lewat udara, dikirim oleh Kiai Banjar dari langgar selatan, dekat Prambanan.

 

“Ada pasukan datang. Kali Gendhol akan mengalir darah,” bisik Kiai Cakra malam itu di telinga Sayekti. Namun, Sayekti tak ingin Cangkring menjadi medan perang. Ia menyingkir ke utara, ke arah Bebeng. “Aku akan menyingkir, tapi jika mereka terus mengejar, aku akan bertahan sampai akhir,” katanya.

 

Di sebuah bulak di pinggir Kali Gendhol, pasukan Jaya Perang menyusul. Pertempuran pecah. Tujuh prajuritnya tewas. Tubuh mereka pun dikubur diam-diam di bawah pasir kali. Sayekti yang juga terluka mundur ke arah kolam kecil di Bebeng.

 

Saat terkepung rapat, Sayekti mengucap mantra terakhir, lalu menghilang, menjelma ikan wader kecil dan masuk kolam. Para prajurit kebingungan mencari, tapi Jaya Perang, dengan mata batinnya yang jahat, melihatnya.

 

“Itu dia,” teriaknya menunjuk kolam. “Kau takkan bisa sembunyi dariku, Sayekti,” katanya dingin.

 

Jaya Perang mengambil gandewa dan sebuah anak panah. Satu anak panah meluncur. Tssak! Air bergolak. Darah merah membasahi permukaan. Lalu langit mengirim suara gemuruh.

 

“Jaya Perang … aku sudah mengalah, tapi kau tetap memburuku dan berniat membunuhku, dengarkan kutukanku: Tujuh turunanmu akan terlahir buta seperti mataku yang terpanah. Lahar Merapi akan menyeret makammu tujuh kali. Rasa sakit ini akan menanam luka di darahmu, dan prajurit-prajuritmu tak akan tenang di dalam tanah.”

Badai pun datang seketika. Angin dari utara menyeret pasir kali. Kilat membelah langit, dan hujan pun laksana dicurahkan dari angkasa mencipta banjir besar. Beberapa prajurit terseret banjir lahar dingin. Jaya Perang terluka parah. Hanya satu prajurit tersisa yang kemudian menuntun kuda Jaya Perang pulang ke selatan dalam keadaan payah.

Namun, di batas Dusun Gading, Jaya Perang gugur dan dimakamkan oleh warga setempat. Prajurit yang mengawalnya meninggal tujuh hari kemudian, dan dimakamkan di dekat Jaya Perang.

Jentera berputar, tahun-tahun berganti. Konon, selama tujuh generasi, anak cucu Jaya Perang terlahir buta. Setiap kali Merapi memuntahkan lahar, makam para prajurit terseret dan nisannya ditemukan jauh di hilir. Itu terjadi tujuh kali sebelum akhirnya tenang.

Sejarah selalu berputar. Satu ketika, terdengar berita, seorang cicit dari garis Jaya Perang dan cicit Demang Sayekti menikah. Tak ada lagi kutukan, tak ada dendam.

Sejak itu, kampung Cangkring tak pernah lagi diserang rampok. Orang bilang, karena kekuatan ruh Sayekti kembali hadir lewat keturunannya, bukan dalam wujud kesaktian, melainkan keteladanan.

“Kalau desa tidak punya pemimpin kuat,” kata Kiai Cakra dalam satu pengajian, “kejahatan akan datang. Seperti air yang mencari celah. Namun, jika pemimpinnya jernih, kuat, dan tak takut mati demi kebenaran, kejahatan akan gentar.”

Konon, pada malam-malam tertentu, orang masih melihat kilatan cahaya dari arah Bebeng. Kadang kala, jika beruntung, ikan wader dengan dua titik merah di matanya pun terlihat dan muncul di permukaan air. Bahkan, tak jarang, konon, Demang Sayekti menampakkan diri sekilas ketika ada keturunannya yang mendaki Merapi.

 

Salam tahu bulat dari #pondokilusikatatanpaarti, 24102026

 

 

CV Singkat

 

Heru Marwata (Si Tahu Bulat HM) bukan dan tidak ingin menjadi penyair, apalagi sastrawan. Ia hanya penggemar kata-kata biasa dengan arti/makna sederhana. Seperti julukan yang dilekatkan (sendiri) padanya, ia menulis dengan gaya iklan tahu bulat: digoreng dadakan (kualitas) lima ratusan. Anak desa yang suka jalan-jalan ini sudah lebih dari 30 tahun mengabdikan diri di almamaternya dengan menjadi dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, FIB UGM  Yogyakarta. Ia telah menerbitkan tujuh buku dalam bentuk e-book. Ia telah mengikutkan karya tahu bulatnya dalam 100-an antologi prosa dan puisi serta tulisan inspiratif. Ia juga sudah banyak memberi endorsmen pada kumpulan karya serta antologi para sahabatnya. HM dapat ditemukan di Youtube, TikTok, Instagram, Facebook, dan media sosial lainnya.

Editor : Ali Sodiqin
Heru Marwata cerpen