RADAR BANYUWANGI – Ribuan penari Gandrung bakal kembali memadati Pantai Boom Marina, Banyuwangi. Namun, ada yang berbeda pada Festival Gandrung Sewu 2026. Untuk pertama kalinya, pertunjukan tari kolosal tersebut akan digelar pada malam hari.
Sebanyak 1.300 penari dijadwalkan tampil pada Sabtu, 24 Oktober 2026, mulai pukul 18.30 WIB. Mereka akan membawakan tarian dengan perpaduan tata cahaya dan elemen fosfor yang menghasilkan efek glow in the dark.
Bukan sekadar pergantian waktu pertunjukan. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi ingin membawa kesenian tradisional masyarakat Osing itu ke panggung internasional.
"Gandrung sewu, bagi kami, tidak hanya sebatas wisata. Tapi, ini adalah keluhuran budaya kami," kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dalam konferensi pers di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu (14/10).
Festival yang berkolaborasi dengan InJourney tersebut akan berlangsung selama tiga hari, 22–24 Oktober 2026. Tema yang diangkat tahun ini adalah Kembang Dermo, yang berakar dari tradisi Seblang Olehsari.
Baca Juga: Gandrung Sewu 2026 Tampil Glow in the Dark, 1.300 Penari Siap Bikin Pantai Boom Banyuwangi Menyala
Berawal dari Parade Seribu Penari
Gandrung Sewu bukan festival yang baru muncul. Pertunjukan pertamanya berlangsung pada 17 November 2012 di Pantai Boom, Banyuwangi.
Saat itu, sekitar seribu penari membawakan koreografi massal bertema Jejer Gandrung. Pertunjukan tersebut mengisahkan asal-usul kesenian Gandrung sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Banyuwangi kepada masyarakat luas.
Nama Gandrung Sewu berasal dari kata gandrung dan sewu. Sewu berarti seribu, merujuk pada banyaknya penari yang terlibat.
Namun, akar kesenian Gandrung jauh lebih tua daripada festival tersebut.
Dalam tradisi masyarakat Osing, Gandrung berkaitan dengan ungkapan rasa syukur setelah panen. Tarian ini memiliki hubungan historis dengan penghormatan kepada Dewi Sri, simbol kesuburan dalam masyarakat agraris.
Seiring perkembangan zaman, Gandrung menjadi bagian dari hiburan rakyat, perayaan adat, dan penyambutan tamu.
Kesenian Gandrung Banyuwangi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2013 melalui SK Nomor 238/M/2013. Pengakuan tersebut diberikan kepada kesenian Gandrung, bukan khusus kepada festivalnya.
Baca Juga: Mengenal Budaya Osing Banyuwangi, dari Tari Gandrung hingga Bahasa Osing
Makna Tari Gandrung, dari Omprok hingga Seblang Subuh
Keunikan Tari Gandrung terlihat pada gerakan tubuh yang dinamis, iringan musik tradisional, serta busana penarinya.
Salah satu cirinya adalah mahkota omprok yang dihiasi ornamen khas Banyuwangi. Penari juga menggunakan kain batik, selendang, dan perlengkapan tari lainnya.
Pertunjukan Gandrung tradisional umumnya mengenal tiga bagian. Jejer menjadi pembuka, Paju menghadirkan interaksi antara penari dan pengibing, sedangkan Seblang Subuh merupakan bagian penutup.
Ketiganya menunjukkan bahwa Gandrung bukan hanya tontonan. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, ungkapan rasa syukur, serta hubungan sosial masyarakat.
Dalam Gandrung Sewu, unsur-unsur tersebut dikembangkan menjadi koreografi massal dan pertunjukan teatrikal.
Baca Juga: Gandrung Sewu Banyuwangi 2026 Digelar Malam untuk Pertama Kali, Ini Sejarah dan Jadwalnya
Kembang Dermo, Simbol Ketulusan dan Penghormatan Leluhur
Tema Gandrung Sewu 2026 memiliki kaitan dengan ritual Seblang di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.
Kembang Dermo merupakan bagian dari tradisi yang mengandung nilai spiritual. Rangkaian bunga kenanga dan kantil dalam ritual tersebut dimaknai sebagai simbol ketulusan, penghormatan kepada leluhur, dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Ketua Dewan Kesenian Blambangan, Hasan Basri, menjelaskan bahwa tema tersebut dipilih melalui kajian terhadap tradisi dan kearifan lokal Banyuwangi.
"Karena ini sakral, maka nuansa yang nanti ditampilkan (Gandrung Sewu 2026) juga sakral. Ada bunga," kata Hasan, sebagaimana diberitakan TIMES Indonesia.
Nilai-nilai itulah yang hendak diterjemahkan ke dalam gerak tari, musik, dan tata panggung modern.
Baca Juga: Musisi Cilik Ikut Menghidupkan Gandrung Sewu 2026, Azril Siapkan Tabuhan Kuntulan di Panggung Kolosa
Ribuan Penari Jalani Latihan Gabungan
Persiapan Gandrung Sewu melibatkan penari dari Banyuwangi dan berbagai daerah lain di Indonesia.
Latihan gabungan perdana berlangsung di Stadion Diponegoro, Banyuwangi, pada 3 Oktober 2026. Para peserta menyelaraskan gerakan dan pola lantai setelah menjalani latihan secara terpisah.
Salah seorang peserta, Ardra Sachio Valerian Marenda, pelajar MTsN 1 Kota Malang, mengaku terkesan dengan semangat para penari.
"Saya takjub dengan ribuan penari Gandrung di sini. Meskipun berlatih sampai malam, namun masih sangat bersemangat. Keren," ujarnya.
Keterlibatan generasi muda tersebut menjadi bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan seni Gandrung.
Baca Juga: Latihan Gandrung Sewu Mencekam, 25 Penari Perempuan Kesurupan di Stadion Diponegoro Banyuwangi
Jadwal dan Cara Menonton Gandrung Sewu 2026
Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan pertunjukan secara langsung, berikut informasi pentingnya.
- 22 Oktober 2026: Pertunjukan Keroncong Banyuwangi dan Hadrah Kuntulan Caruk.
- 23 Oktober 2026: Musik Jalanan dan Gandrung Terob.
- 24 Oktober 2026: Jaranan Show, Meras Gandrung, atraksi drone, kembang api, serta pementasan utama Gandrung Sewu.
Pertunjukan utama dijadwalkan mulai pukul 18.30 WIB di Pantai Boom Marina, kawasan Kampung Mandar, Kecamatan Banyuwangi.
Berdasarkan informasi yang dipublikasikan IDN Times, penonton tidak dikenai biaya masuk di area umum. Meski demikian, pengunjung disarankan memeriksa kembali ketentuan penyelenggara sebelum berangkat.
Wisatawan dari luar kota dapat menggunakan kereta api menuju Stasiun Banyuwangi Kota, kemudian melanjutkan perjalanan sekitar enam kilometer ke lokasi festival.
Ada pula promo tiket kereta dari PT KAI Daop 9 Jember. Diskon sebesar 20 persen berlaku untuk sejumlah perjalanan kereta komersial kelas ekonomi dan eksekutif dengan periode keberangkatan 21–25 Oktober 2026, sesuai ketentuan dan ketersediaan kuota.
Pengunjung sebaiknya datang lebih awal, mengenakan alas kaki yang nyaman, serta menyiapkan perlengkapan untuk menonton pertunjukan di kawasan pantai pada malam hari.
Editor : Lugas Rumpakaadi