Mengenal Budaya Osing Banyuwangi, dari Tari Gandrung hingga Bahasa Osing

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 12:15 WIB
Penari muda menampilkan Tari Gandrung khas Banyuwangi. Keterlibatan generasi penerus menjadi bagian penting dalam menjaga kesenian tradisional. (Taufiqzulman12/Wikimedia Commons)
Penari muda menampilkan Tari Gandrung khas Banyuwangi. Keterlibatan generasi penerus menjadi bagian penting dalam menjaga kesenian tradisional. (Taufiqzulman12/Wikimedia Commons)

RADAR BANYUWANGI – Pelestarian budaya Osing Banyuwangi kini mendapat perhatian melalui penguatan pendidikan di sekolah. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggandeng Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim (YPA-MDR) untuk membina 10 sekolah dasar negeri selama lima tahun.

Kerja sama yang ditandatangani pada 10 Oktober 2026 itu mencakup empat bidang, yakni pendidikan karakter, akademik, seni budaya, dan kecakapan hidup.

Sekolah sasaran berada di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, dan Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu. Salah satunya SDN 1 Kemiren, yang berada di kawasan masyarakat Osing.

Kepala SDN 1 Kemiren, Hepri Sugiono, menyebut sekolahnya akan mendapat dukungan revitalisasi perpustakaan dan pengaktifan kegiatan kesenian.

Program tersebut menjadi peluang untuk mendekatkan generasi muda dengan kebudayaan daerah, bukan hanya melalui pertunjukan, melainkan juga kegiatan belajar sehari-hari.

Baca Juga: Mirip Keong, Apem Contong Punya Jejak di Pasar Jajanan Osing Kemiren

Mengenal Masyarakat Osing Banyuwangi

Masyarakat Osing, atau Using, merupakan kelompok masyarakat asli Banyuwangi yang memiliki keterkaitan sejarah dengan wilayah Blambangan.

Identitas masyarakat ini tercermin melalui bahasa, adat istiadat, kesenian, arsitektur tradisional, hingga tradisi lisan.

Desa Kemiren menjadi salah satu pusat pelestariannya. Desa di Kecamatan Glagah tersebut dikenal memiliki rumah tradisional Osing, kesenian Gandrung, musik angklung, dan tradisi membaca Lontar Yusup.

Menurut Kementerian Pariwisata, Kemiren juga mempertahankan tradisi Barong Ider Bumi dan Tumpeng Sewu sebagai bagian dari kehidupan budaya masyarakat.

Baca Juga: Jangan Banci, Kuliner Langka Osing dari Daun Belimbing yang Tak Berbuah

Tradisi dan Kesenian yang Terus Dijaga

Kekayaan budaya Osing Banyuwangi terlihat dari beragam tradisi yang diwariskan antargenerasi.

Tari Gandrung menjadi salah satu kesenian paling dikenal. Tarian yang memiliki hubungan historis dengan masyarakat agraris ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2013.

Ada pula Seblang, ritual adat yang berkembang di Desa Olehsari dan Bakungan. Tradisi tersebut memadukan tarian, musik, dan syair dengan nilai spiritual masyarakat pendukungnya.

Sementara itu, Barong Ider Bumi di Desa Kemiren dilaksanakan melalui arak-arakan barong dan kenduri bersama sebagai bagian dari tradisi tolak bala.

Kesenian tersebut tidak hanya menjadi daya tarik wisata. Di dalamnya tersimpan pengetahuan mengenai sejarah, nilai kebersamaan, serta identitas masyarakat.

Antusiasme generasi muda juga terlihat menjelang Gandrung Sewu 2026. Berdasarkan keterangan Pemkab Banyuwangi pada 12 Oktober 2026, sebanyak 1.300 penari dijadwalkan tampil pada 24 Oktober 2026. Sebanyak 200 peserta berasal dari luar daerah.

Salah satunya Asiva Kirana Nadinar, siswi SMK Putikecwara, Kota Batu.

“Merinding melihat Gandrung Sewu. Pertama melihat langsung kepikiran ingin ikut,” ujarnya sebagaimana dikutip dari publikasi pemerintah daerah tersebut.

Baca Juga: Rujak Soto Banyuwangi, Antara Tradisi Osing dan Wajib Halal 18 Oktober 2026

Bahasa Using dan Tantangan Pelestarian

Di tengah berkembangnya teknologi dan budaya populer, bahasa daerah menghadapi tantangan untuk tetap digunakan oleh generasi muda.

Bahasa Using bukan sekadar sarana komunikasi. Bahasa ini juga menyimpan ungkapan, cerita rakyat, serta pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Osing.

Upaya pelestarian telah dilakukan melalui pendidikan. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, misalnya, menyelenggarakan Festival Literasi Using pada 1 November 2025.

Kegiatan itu melibatkan 400 pelajar SD dan SMP. Peserta mengikuti berbagai lomba, mulai dari menulis cerita, membaca puisi, bernyanyi, hingga mendongeng menggunakan bahasa Using.

Ahmad Syauqi Ghifari, siswa SDN 1 Kalibaru Wetan, mengaku memperoleh pengalaman baru melalui kegiatan tersebut.

“Anak sekarang tidak boleh hanya bisa Bahasa Inggris, tapi perlu juga belajar bahasa daerah, bahasa asli kita,” katanya, dikutip dari laman resmi Pemkab Banyuwangi.

Baca Juga: Tradisi Ancakan di Kemiren Banyuwangi, Simbol Syukur dan Kebersamaan Warga Osing

Sekolah Menjadi Ruang Pelestarian Budaya

Pelestarian budaya tidak cukup mengandalkan festival tahunan. Sekolah memiliki kesempatan untuk membangun kebiasaan mengenal dan menggunakan warisan budaya secara berkelanjutan.

Muatan lokal bahasa Using menjadi salah satu jalurnya. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah memiliki kebijakan pemberlakuan muatan lokal bahasa Osing melalui Peraturan Bupati Nomor 69 Tahun 2003.

Pembelajaran juga dapat memanfaatkan teknologi.

Penelitian Memmy Dwi Jayanti dan Siti Muharomah yang diterbitkan dalam Jurnal Hortatori pada 2024 menunjukkan peningkatan rata-rata nilai siswa dari 65,00 menjadi 78,33 setelah penggunaan bahan ajar bahasa Using berbasis digital.

Penelitian tersebut menggunakan pengukuran sebelum dan sesudah pembelajaran pada siswa kelas IV, V, dan VI SDN Model Banyuwangi. Temuannya memperlihatkan potensi media digital dalam mendukung pembelajaran bahasa daerah.

Baca Juga: Antara Melestarikan Tradisi dan Menjaga Keselamatan, Sembur Utik-Utik Tedak Siten Osing Tuai Beragam Pandangan

Contoh Pembelajaran Budaya Lokal di Sekolah

Pengenalan budaya Osing dapat diintegrasikan ke berbagai mata pelajaran.

Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, siswa dapat mewawancarai penutur bahasa Using, lalu menyusun cerita rakyat atau kamus sederhana.

Pada pelajaran seni, peserta didik bisa mempelajari gerakan dasar Gandrung, musik tradisional, serta motif batik Banyuwangi.

Sementara itu, pembelajaran sejarah dapat mengangkat perkembangan Blambangan dan kehidupan masyarakat Osing. Guru juga bisa memanfaatkan rumah tradisional sebagai bahan pembelajaran bentuk bangunan dan lingkungan.

Kunjungan edukatif ke Desa Kemiren menjadi pilihan lain. Siswa dapat berdialog langsung dengan seniman, pengrajin, maupun tokoh adat.

Namun, pembelajaran tradisi sakral harus tetap menghormati ketentuan masyarakat pendukungnya.

Baca Juga: Menpar Widiyanti Dorong Desa Kemiren Raih Best Tourism Village Dunia, Terpesona Budaya Osing dan Kuliner Tradisional

Menjaga Identitas untuk Generasi Mendatang

Upaya menjaga budaya Osing Banyuwangi membutuhkan kerja sama sekolah, keluarga, pemerintah, dan komunitas budaya.

Pelestarian tidak hanya berarti mempertahankan pertunjukan tradisional. Bahasa perlu digunakan, pengetahuan perlu dipelajari, dan kesenian membutuhkan generasi penerus.

Ketika budaya lokal mendapat tempat dalam pendidikan, siswa tidak hanya mengenal sejarah daerahnya. Mereka juga memiliki kesempatan untuk memahami identitas dan menghargai keberagaman Indonesia.

Editor : Lugas Rumpakaadi
budaya Osing Banyuwangi Tradisi Osing pendidikan budaya lokal bahasa Using pelestarian budaya Banyuwangi