RADAR BANYUWANGI – Ribuan penari Gandrung bersiap menghadirkan pertunjukan berbeda di pesisir Banyuwangi. Untuk pertama kalinya sejak digelar pada 2012, festival kolosal Gandrung Sewu akan berlangsung pada malam hari. Pertunjukan dijadwalkan berlangsung di Pantai Boom Marina, Sabtu (24/10), mulai pukul 18.30 WIB.
Gandrung Sewu 2026 bakal memadukan seni tari tradisional dengan teknologi pencahayaan. Lebih dari 1.000 penari akan mengenakan elemen fosfor yang dipadukan dengan tata cahaya untuk menciptakan efek visual saat pertunjukan berlangsung.
Konsep baru tersebut merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dengan InJourney, holding BUMN yang bergerak di sektor aviasi dan pariwisata.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, perubahan waktu penyelenggaraan menjadi bagian dari upaya mengembangkan kesenian tradisional tanpa menghilangkan identitas budayanya.
“Ini bukan sekadar perubahan waktu pelaksanaan, tetapi kami ingin memberikan pengalaman yang berbeda kepada penonton dan wisatawan,” kata Ipuk dalam konferensi pers Gandrung Sewu 2026, Rabu (30/9).
Kembang Dermo, Simbol Kesucian Masyarakat Osing
Selain menghadirkan konsep pertunjukan malam, Gandrung Sewu 2026 mengusung tema Kembang Dermo. Tema tersebut berakar dari tradisi Seblang yang hidup dalam masyarakat Osing di Banyuwangi.
Kembang Dermo dikenal sebagai bunga yang memiliki makna sakral dalam ritual Seblang. Keberadaannya berkaitan dengan nilai kesucian serta hubungan manusia dengan alam, Tuhan, dan sesamanya.
Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri menjelaskan bahwa tema tersebut dipilih untuk mengangkat kembali kekayaan budaya lokal melalui pertunjukan kolosal.
“Kita mengambil tema Kembang Dermo yang merupakan kembang klasik yang sakral,” ujar Hasan, sebagaimana diberitakan Radar Banyuwangi pada Senin (5/10).
Makna Kembang Dermo tidak hanya akan ditampilkan melalui ornamen pertunjukan. Nilai filosofisnya juga akan dihadirkan melalui gerak tari dan tembang tradisional.
Dengan demikian, Gandrung Sewu bukan sekadar tontonan yang mengandalkan kemegahan ribuan penari. Pertunjukan ini juga menjadi sarana memperkenalkan nilai budaya yang diwariskan masyarakat Banyuwangi secara turun-temurun.
Ribuan Penari Matangkan Persiapan
Persiapan Gandrung Sewu 2026 terus dilakukan. Ribuan peserta menjalani latihan gabungan perdana di Stadion Diponegoro, Banyuwangi, Sabtu (3/10).
Latihan tersebut bertujuan menyelaraskan gerakan dan formasi penari yang sebelumnya berlatih secara terpisah. Peserta tidak hanya berasal dari Banyuwangi, tetapi juga sejumlah daerah lain, termasuk Malang, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Bangkalan, dan Blitar.
Ketua Pelatih Seniman dan Tari Banyuwangi (Patih Senawangi), Suko Prayitno, menyebut penguasaan pola dan gerakan tari para peserta telah mencapai sekitar 75 persen saat latihan gabungan perdana.
“Peserta Gandrung Sewu tahun ini sangat cepat adaptasi,” kata Suko.
Semangat serupa ditunjukkan Ardra Sachio Valerian Marenda, peserta dari MTsN 1 Kota Malang yang baru pertama kali mengikuti Gandrung Sewu.
“Saya takjub dengan ribuan penari Gandrung di sini,” ujar Valerian.
Keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan kesenian Gandrung. Melalui latihan dan pementasan, para penari tidak hanya mempelajari gerakan, tetapi juga mengenal identitas budaya yang mereka tampilkan.
Dari Tradisi Lokal Menjadi Ikon Pariwisata
Gandrung merupakan salah satu kesenian tradisional yang melekat dengan identitas masyarakat Banyuwangi. Dalam sejarahnya, tari ini berkaitan dengan ungkapan rasa syukur atas hasil panen dan penghormatan kepada Dewi Sri, yang dikenal sebagai simbol kesuburan.
Tradisi Gandrung juga pernah dibawakan penari laki-laki atau gandrung lanang. Dalam perkembangannya, muncul penari perempuan yang dikenal sebagai Gandrung Semi.
Kesenian Gandrung Banyuwangi telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2013.
Sementara itu, pertunjukan kolosal Gandrung Sewu mulai diperkenalkan pada 2012 melalui Parade Gandrung Sewu di Pantai Boom. Sejak saat itu, acara tersebut berkembang menjadi salah satu ikon wisata budaya Banyuwangi.
Penyelenggaraan tahun ini diharapkan turut memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. InJourney melihat keberhasilan acara pariwisata bukan hanya dari jumlah pengunjung, melainkan juga lama tinggal wisatawan dan manfaat ekonomi yang dirasakan pelaku usaha lokal.
“Ukuran keberhasilan pariwisata bagi InJourney bukan cuma berapa banyak turis yang datang,” kata Senior Vice President Corporate Secretary InJourney Yudhistira Setiawan, sebagaimana dikutip detikJatim.
Puncak Pertunjukan pada 24 Oktober
Rangkaian Gandrung Sewu 2026 dijadwalkan dimulai pada 22 Oktober dengan penampilan Keroncong Banyuwangi dan Hadrah Kuntulan Caruk. Sehari kemudian, pengunjung akan disuguhi Musik Jalanan dan Gandrung Terob.
Puncak acara pada 24 Oktober bakal dimeriahkan Jaranan Show, Meras Gandrung, atraksi drone, pesta kembang api, serta pementasan utama Gandrung Sewu. Rangkaian kegiatan direncanakan ditutup dengan konser musik.
Perpaduan seni tradisional dan teknologi menjadi wajah baru Gandrung Sewu. Di balik perubahan konsep panggungnya, pelestarian budaya Osing tetap menjadi landasan utama agar kesenian Gandrung terus dikenal lintas generasi.
Editor : Lugas Rumpakaadi