RADAR BANYUWANGI – Gandrung Sewu 2026 bakal tampil dengan wajah berbeda. Bukan hanya jadwal pementasan yang bergeser dari siang ke malam, komposisi musik pengiring pertunjukan kolosal itu juga berubah: anak-anak jenjang SD dan SMP akan mengambil peran mengiringi ribuan penari di Pantai Boom Marina Banyuwangi.
Perubahan tersebut menjadi salah satu warna baru dalam signature event Banyuwangi yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 24 Oktober 2026.
Jika selama beberapa tahun terakhir musik Gandrung Sewu dimainkan pelajar jenjang SMA, tahun ini kesempatan tersebut diberikan kepada pelajar SD dan SMP. Mereka akan berada di balik iringan musik yang menghidupkan gerak ribuan penari dalam pertunjukan kolosal tersebut.
Ketua Pelatih Seniman dan Tari Banyuwangi (Patih Senawangi) Suko Prayitno mengatakan, komposisi pemusik Gandrung Sewu memang mengalami perubahan dari tahun ke tahun.
“Pemusik Gandrung Sewu sejak 2012 sampai 2016 orang dewasa. Setelah itu, komposisinya beralih kepada pelajar tingkat SMA,” ujarnya.
Dari Orang Dewasa, Beralih ke Pelajar
Perjalanan komposisi pemusik Gandrung Sewu menunjukkan adanya perubahan sekaligus ruang regenerasi bagi pelaku seni Banyuwangi.
Pada periode 2012 hingga 2016, musik pengiring Gandrung Sewu dimainkan orang dewasa. Setelah itu, mulai 2016 hingga penyelenggaraan 2025, posisi tersebut diisi pelajar jenjang SMA.
Kini, pola tersebut kembali berubah. Gandrung Sewu 2026 memberikan panggung kepada pelajar SD dan SMP.
“Dari 2016 sampai acara Gandrung Sewu tahun 2025 adalah anak SMA. Untuk Gandrung Sewu yang akan digelar tahun ini pemusiknya dari anak SD dan SMP,” tutur Suko.
Kehadiran mereka bukan sekadar menghadirkan variasi baru dalam komposisi pertunjukan. Para pelajar tersebut juga mendapat kesempatan merasakan langsung atmosfer salah satu panggung seni budaya terbesar di Banyuwangi.
Menyiapkan Regenerasi Seniman Banyuwangi
Bagi Suko, keterlibatan pelajar SD dan SMP menjadi bagian penting dalam proses regenerasi pelaku seni budaya Banyuwangi.
Gandrung Sewu menjadi ruang bagi generasi muda untuk tidak hanya menyaksikan seni tradisi, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pertunjukannya. Apalagi, panggung yang mereka hadapi bukan pertunjukan berskala kecil.
“Bayangkan, event internasional mayoritas pengiring musiknya adalah anak SD dan SMP,” imbuhnya.
Dengan komposisi tersebut, Gandrung Sewu 2026 tidak hanya menawarkan perubahan suasana melalui pementasan malam hari. Pergeseran pemain musik ke jenjang SD dan SMP juga membawa pesan lain: panggung besar seni budaya Banyuwangi mulai memberi ruang lebih luas kepada generasi yang akan meneruskan tradisi tersebut.
Ribuan penari dan para pemusik muda itu nantinya akan bertemu dalam satu panggung di Pantai Boom Marina Banyuwangi pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Gandrung Sewu pun diproyeksikan hadir dengan warna baru, sekaligus menjadi panggung pembuktian bagi talenta seni sejak usia sekolah. (ray/sgt)
Editor : Ali Sodiqin